Selasa, 30 Desember 2008

#4 - Pulau Lengkuas - takjub memandangmu

Setelah puas berenang-berening... jam 12an, kami segera menuju ke pulau berikutnya..
yuuuhuuuuu Pulau Lengkuas.
Ombak masih begitu bersahabat. Di tengah laut, beberapa perahu nelayan tampak hilir mudik, mencoba menangkap ikan. Perahu mereka kecil saja, dan digenjot dayungnya.
Pulau lengkuas ini pulau dengan pasir yang putih bersih dan mercusuar berdiri tegak. Dari kejauhan terlihat pantulan warna putih pasirnya... seakan membiaskan cahaya tersendiri.


Yahohohoooooo... mendaratlah di Pulau indah ini. Mercusuar yang tinggi segera menyambut. woo.. mercusuar ini dibangun pada 1890, ditunggu oleh pak Ngadirun asal purworejo. Giginya yang ompong dan keramahannya menyambut kami. Pulau itu sepi banget, cuman ada 10 orang lain yang berkunjung.
nah berhubung udah jam 12.30an, perut harus diisi kalo tidak mau masuk angin. Lunch box berisi nasi goreng dan kelapa muda yang dipetik pak Rusdi.. terasa enak banget siang itu. tapi asli.......kelapa mudanya muanissss pooollllll.

setelah perut kenyang, dan istirahat sejenak.. karena takut suduken (ini bahasa indonesianya apa lagi ya?). maka segeralah naik ke mercusuar. dengan jumlah 294 tangga.. ngos ngos ngos.. dan kaki ndredeg, karena capek dan singunen... beberapa foto dari atas diambil...so beautiful... indah banget.. mata mengejap kejap tidak pernah membayangkan betapa indahnya pantai kita (sayang di blog cuman bisa kecil ya... yang besar ada di flickr).

turun dari mercusuar pelan-pelan aja bu... balung tuwa... ntar malah semaput repot nggendong si endut ini.. hehehhe..
Turun dari mercusuar, sempat melihat ruang-ruangnya pak Ngadirun. sangat sederhana..dan tua... lihat makan siangnya. ikan bakar dan ketela bakar dengan tungku yang begitu sederhana.

setelah itu aku menyusur (atau menyisir sih?) sisi satunya. disisi ini batu-batu besar bergerombol membentuk kolam dewa-dewi. air di sekita batu anget banget, karena tidak terkena ombak, sehingga genangannya lebih mudah terpanggang matahari. berendam di kolam dewa-dewi membuat aku merasa seperti di spa dan secantik dewi... ceiilllllleeeee... dan sesudahnya....acik acik snorkelling...... ini enak banget, asli, terumbu karangnya masih oke banget.. beberapa bintang laut berjalan cepat.

nah sore harinya sekitar jam tiga ke arah pulang hotel, sang perahu mampir ke pulau babi dulu. pulau ini pasirnya sangat lembut dan tidak ada ombak sama sekali. di dekat pulau babi adan GUSUNG PASIR, yang hanya nampak pas air surut. Gusung pasir ini benar2 hanya pulau pasir kecil. ini keberuntungan lagi. pas itu burung-burung camar... trek jentrek di pulau.. menampilkan satu pemandangan yang indah banget...

Dolan hari ini ditutup dengan menyaksikan sunset di Tanjung tinggi. Sunset yang gagal... karena semburat merah di ufuk barat segera ilang kena angin... hiks hiks banget.. udah nunggu berjam-jam padahal..

tapi nggak papa... biru yang agak ungu di saat matahari terbenam ini juga tidak kalah indahnya...
beautiful sunset.....

#3 - Pulau Burung - masih di Belitung

yes....yes...yes... pagi cerah membuat aku semangat banget. kenapa????? karena.................... Sabtu kemarin jatahnya berperahu dari pulau ke pulau di sekitar Belitung Langit yang biru dengan awan putih yang menggantung di sana-sini membuat aku merasa dimanjakan oleh alam. Selama Desember, jarang banget cuaca secerah ini (katanya lo...) segera setelah maem pagi (aduhhh nggak asik nih maem paginya LORIN - lha iya, wong LORIN kok maem paginya cuman gini) roti tawar dengan selai nanas dikit (pilihan lain cuman nasgor dan bakmi goreng), segera mengenakan sunblock sekujur tubuh.. (padahal udah tau keling.. masih aja nekat pake sunblok..gak ngaruh bu..gak ngaruh...) Pak Gito menjemput untuk memulai pelayaran dari Tanjung Kelayang. Di Tanjung kelayang Pak Rusdi sudah siap dengan perahunya. Perahu yang kecil, lebih kecil dari yang kubayangkan, dan terbuka. Tempat yang tertutup hanya untuk mesin.


Tiba-tiba tik-tik-tik-tik....gerimis kecil-kecil datang... aduuuuhhhhhhhhhhhhhh sedihhh. Dan segera aja buru-buru seluruh perlengkapan dimasukkan ke kabin mesin... terutama si EOS..hehehe. Pak Rusdi bilang, "nggak papa mbak, selama rintik2 gini, malah nanti laut akan tenang tidak berombak dan sampai pulau bersih banget". Untung apa yang dikatakannya benar. yes... perjalanan mulai.. "I am sailing...I am sailing"..... aku berdendang.(padahal nggak pakai layar..).

Di tengah laut.. ada tonggak-tonggak kayu yang dipencoki (apa sih bahasa indonesianya dipencoki????) burung. Ombak mengalir tenang.. kadang agak besar namun lebih banyak kecil. panas matahari yang menempel badan tidak lagi menjadi sesuatu yang diperhitungkan. Semua lebur menyatu dalam gairah mencecap sepinya laut.

Nah itu dia............. Pulau burung sudah kelihatan. bentuknya seperti burung, yang berada di tengah laut. Dan... WOOOOOOOWWWWWWWWWWWWW.... pantai di depannya, ajegile.. indah banget. pantai putih, rerimbunan pepohonan dan beberapa pohon kelapa... lebih indah dari BALI sungguh ini kayak lokasi pilemnya Leonardo DI Caprio yang di PHI-PHI island atau apa itu di THAILAND.... ini Indonesiaku.... dengan keindahan alami dan tersembunyi. Pulau Burung tidak berpenghuni.

Dan kebetulan ketika aku sampai sana, serombongan anak muda (5 atau 7 orang sedang naik perahu meninggalkan pantai..) jadi bener2-bener serasa private beach. So.... berenang, mengapung-apung di laut, berenang lagi (sampai 15 meter dari pantai masih sedalam leher aja), dan naik ke atas-atas batu menjadi bagian dari cara menikmati alam (tentu saja... wira-wiri cari foto pasti dilakukan).

Indah-betul-betul indah pagi sampai siang itu...

Senin, 29 Desember 2008

#2 - Belitung Timur (masih di hari pertama)

Setelah puas main air di Tanjung Kelayang... perut kembali udah minta diisi.....
ohoiiiii... mau maem siang... apalagi kalo bukan seafood... ya iyalah masak ke laut maemnya steak??? hahahah
Maem siang ini balik lagi ke Tanjung Tinggi. Di warung Congbuu Rindu menanti...
nggak usah ditulis kelezatannya deh... dari pada pada ngiler.... hahahah... tapi saksikan sendiri foto-foto ini. udah langsung bikin lahap.... hahhaha.. yang pertama ini adalah daun simpur. Di belitung daun ini digunakan untuk membungkus berbagai macam makanan, semacam daun pisang di jawa.. rasanya jadi lebih lezat..


Apa pesanan hari ini bu???? ada ikan bakar yang lumer dimulut, ada Gangan ikan Ketarap, kepalanya warna ungu coklat biru gitu. rasanya kuning asam2 karena tomat.

kemudian ada calamari yang sangat fresh, udang goreng tepung yang crunchy, sayurnya adalah tumis kangkung dan tumis genjer.... dan tentu saja rajungan rebusss......... nyam nyam...


selesai makan siang jam satu.. kalo main air lagi udah bosan... kalo masuk kamar... halahhhhh ngapain jauh-jauh ngamar...
maka diputuskan untuk ke Belitung Timur... 2 jam dari Tanjung Tinggi.
Belitung timur ini lebih sepi daripada yang barat.
Sepanjang jalan, driver kami, Pak Gitok, bercerita kehebatan dukun di Belitung Timur... jadi kisah dukun laskar pelangi yang mengusir buaya memang benar terjadi di sana.
pertama mampir di Vihara DEWI KWAN IM, di daerah burung mandi. Vihara merah ini adalah vihara buddha tertua di Belitung. Disana kita bisa minta diramal.. Vihara ini sepi, kecuali pas musin ziarah Kubur, atau Ceng Beng. perantau-perantau belitung yang ada di Taiwan pulang untuk membersihkan kubur nenek moyang.

Tujuan berikutnya adalah Pantai Burung mandi. Pantai ini landai, pasirnya tidak seputih Tanjung Tinggi, namun pinggirnya ditumbuhin pohon pinus... suasananya sungguh beda.

Kemudian tujuan berikutnya adalah Kedai Kopi Manggar....hahahaha... asik... aku melewati rumahnya Aling... masih sama persis dengan filmnya. Kedai Kopi di Manggar buanyaaaakkkkk banget... hampir sepanjang jalan ada kedai kopi.

Kopi O.. yang pahit dan kopi susu menemani siang itu... mmmmm kopinya pekat tapi tidak terlalu pahit.
Dari Manggar, segera ke gantung... mau liat SD Muhamadiyah Gantung. dan tentu saja berpotret di padang ilalang di depan SD... uuhhhhh cantik banget padan itu... sayangnya banyak ulat bulu.. hahahhaa...

Dari Gantung udah cukup malam... perut biasa laperrrrr lagi... dan malam ini ditutup dengan makan Mie goreng dan cap cae di belakang Bank Mandiri Tanjung Tinggi.

Pulang ke hotel, dengan rasa puas yang amat sangat....(terutama my oldest son, karena pas di pantai ketemu Riri Reza, dan riri reza masih ingat ama dia ketika ikut workshop film indie), dan dalam hati aku bergumam.... mudah-mudahan besok langitnya indah... jadi dapet foto yang amazing...

#1 - Belitung Island - sepi yang indah

Setelah Natal.. aku dan gank segera terbang ke Jakarta. Semburat jingga berpadu biru sore itu.. memberikan semangat tersendiri karena besok pagi-pagi benar kami akan terbang ke Belitung.


Sampai jakarta... udah jam 7.30 malam. Perut udah nagih untuk diisi. Dan biasalah... ini kegemaran kami.. untuk mampir ke KOUFU FOOD MALL di samping terminal 2.
MMMMMMMM.... ada nasi hainan, roasted duck, danm mie Duck.... mengenyangkan untuk sangu tidur... hahaha gimana tidak ndut... belum jalan aja udah macem2 pesanannya.


Malam ini, aku menginap, di Hotel Bandara... melihat kelap-kelip biru di bandara...sambil tidur.. memberikan sensasi tersendiri...

Banguuuuunnnnnnnnnnn.....jam 4 aku segera bebenah... mandi... dan siap-siap ke BELITUNG naik Sriwijaya Airways.. Pesawat tepat waktu... jam 6.30 take off.. perjalanan tidak terlalu lama.. 50 menit.
dan ooooiiiiiii pulau Belitung segera terlihat... dari atas tampak danau-danau biru. Namun jangan salah, danau ini menyisakan kepedihan. Kerusakan bumi akibat penambangan timah yang tidak bijaksana... Ketika PT Timah berjaya.. ternyata banyak hal yang tidak dilakukan untuk mencintai lingkungan. setelah PT timah bangkrut, maka penambangan timah dilakukan oleh rakyat... dan tentu saja lebih parah karena keterbatasan pengetahuan dan teknologi.

Huuimmmmmm mendaratlah aku di Bandara H.AS.HANANDJUDIN... bandara mungil yang masih direnovasi. lalu segera meluncur ke Tanjung Pandan. Makan pagi dulu. dan tentu saja MIE BELITUNG yang khas itu... mie ya kental, dengan taoge, emping, ayam dan telur. Minuman anget Jeruk Kunci, atau Limau kunci. Rasa kecutnya sedang... enak banget.

Kemudian... mobil segera melaju ke arah Tanjung Tinggi, kira-kira 20 menit dari tanjung pandan. Langit hari ini lumayan bersahabat meski tidak dapat disebut cerah banget. masih agak mendung. tapi sangat lumayan dibanding hari-hari yang lalu. Tibalah aku di LORIN, hotel tepat di pinggir pantai. Hotelnya tidak terlalu banyak kamar.. dengan kamar mandi terbuka dan kamar tidur yang menghadap laut langsung.

Kemudian, setelah ganti kostum, bergegaslah aku ke Pantai tempat Shooting Laskar Pelangi. Cuaca yang tidak terlalu terang, menyebabkan birunya laut tidak terlihat. tapi tetep aja WOOOOOOWWWW.... indah dengan batu-batu yang besar menjulang.....
laut ini ombaknya kecil... jadi kita bisa main sampai ke tengah...

Sesudahnya segera saja meluncur ke Tanjung Kelayang.... lebih ke timur dibanding dengan Tanjung Tinggi. Beberapa perahu kecil bersandar di sana. Kenapa disebut Tanjung Kelayang??? ternyata ada batu yang bentuknya mirip burung Kelayang...
Kita bisa berjalan menyusur batu-batu satu-satu dan membiarkan kaki kita dijilat ombak.... mmmm on vacation benar...

Kamis, 25 Desember 2008

Ini Natal Bagi Mu

Bulir hujan yang turun
di malam Natal ini
airnya mengalir
menyentuh setiap ujung tubuhku...

Aku kuyup...
kuyup akan cintaMu
kuyup akan berkat Mu
kuyup mengharap dekap Mu

Aku merindu Mu...
selalu dan selalu...
Selamat datang Bintang Timurku

Inikah Natalku?

Kurobek mulutku agar dapat berteriak lebih kencang
memakimu... karena kau tiada pernah mengerti
tiada pernah mengerti rasaku

Aku berteriak kencang untuk menutupi ketelanjanganku
ketelanjangan yang kau torehkan
seakan membuka semua diriku

aku berteriak kencang
karena aku tiada mau melihat ketelanjanganku sendiri
meski sesungguhnya aku malu

aku tahu ini bukan natalku
aku belum berani berucap..
aku lemah... aku tidak mampu mengendalikan diriku
maafkan aku.... ini belum menjadi natalku

Senin, 22 Desember 2008

Kami memiliki



Kami memiliki cinta untuk dibagi
...................karena engkau
Kami memampu mengunyah setiap derap hari
........karena engkau
Kami memiliki semangat menatap esok
............karena engkau

Engkau Ibu...
caramu menganyam hati kami
caramu memahat pikir kami
caramu membiarkan kami terbang bebas
adalah hal terindah yang kami miliki

(Ibu n Girls..., i love u all,
and always proud of u what the way you are)

Baju renda putih Ibu



baju renda putih dari bekas korden
yang kau jahit untukku masih tersimpan di hati
masih sama putihnya seperti lalu Ibu...
jahitannya yang halus..
warnanya yang belum pudar mengelus bahuku
seperti ketika aku kanak-kanak

telur dibagi banyak
yang kau iris dengan bilah pisaumu
untukku dan ines
masih terasa lekat di lidahku
dan bahkan melekat di relung pikirku
berbagi adalah indah

dan kau adalah keindahan itu sendiri Ibu....
warnamu lembut dan tenang
aku ingin berbisik,sekaligus berteriak
Aku mencintaimu Ibu
selalu dan selalu

(selamat hari Ibu.......)

Sabtu, 20 Desember 2008

Kenthir ternyata menurun

tadi siang sampai sore aku menghabiskan waktu dengan Eki (the most innocent man di sekolahnya... karena konyol pol tapi nggak pernah cheating, nggak pernah neko-neko) berjalan di Galeria. ini dialogku dengan dia

Aku: Ki... muter bentar ya... aku ada vocer 50ribu nih, sayang kalo nggak digunain
Eki: Yo...

lalu aku mengajak liat ada baju polkadot lucu

Aku: Ki... apik rak?
Eki: Ibu.... liat judul baju itu... chicgirl... so are you girl?... ibu Chic apa dong?
Aku: Aku???? yo chicken to ya.....
(aseemmmm *mrengut mode on*)

kemudian mampir ada kaos ungu dengan daleman tanktop.. lucu, lehernya draperi
Aku: Ini aja yo Ki?
Eki: Ibu.... ndak fit... itu mbleweh... boleh beli asal Ibu pake Kozui dulu...
(asemmmm meneh)

jalan lagi...
Aku: Ini aja kalo gitu... simple modelnya
Eki: Ibu...... kok tidak belajar dari pengalaman. Ini judulnya apa? teen kan?? tau nggak bu teen itu berapa?
Aku: berapa? (kupikir masalah harga...)
Eki: Teen itu between fourteen and nineteen bu...... how old are you?????

walah....... asem asem... kenthir kok menurun.. kupikir ada perbaikan keturunan... bul dia sama kenthirnya dengan aku

Senin, 15 Desember 2008

Pantai Slamaran - Pekalongan

Yen tak pikir-pikir... aku ki gendeng juga....
Kamis sore aku pulang jogja, kemudian jumat pagi harinya ke semarang lagi, karena ada rapat. Nah dalam perjalanan ke Semarang kok rasanya pingiiin banget dolan. bingung mau kemana. maka kuputuskan untuk sms Indah (temenku S3 dulu) yang anak pekalongan, Sms Desti asistenku di Unika yang anak pati, dan Agung cah Lasem dulu di PSAP tapi sekarang jadi Banker.
Aku hanya berpikir siapa yang memberi informasi lebih komplit maka aku akan meluncur ke sana.
dan.... ternyata indah memberi info yang asyikk banget... Ini smsnya:

wah pekalongan ki enake nggo wisata kuliner karo blonjo batik je. Klo mau liat utan pinus ke Linggoasri, mau liat kebun teh ke Pagilaran, bisa liat pantai tapi sing rada resik di Slamaran. Ojo lali makan taoto klego atau depan PPIP, sop kacang ijo, nasi kebuli nang Rm Puas, pindang tetel, nasi Megono neng rm nasi uwet.... heheheh aja lali sangu xenical ben ra lemu..

wowww.... menggoda juga nih infonya.
maka setelah selesai rapat, aku pulang ke rumah ambil baju, siapa tahu pingin nginep dan meluncurlah ke Pekalongan.

Jarak Semarang Pekalongan tidaklah terlalu jauh. Melalui outer ringroad bisa dicapai dalam 2 jam. nggak enaknya banyak truk yang ngakngekngok, alooooonnnn banget jalannya. apalagi pas alas roban... wadooohhh harus siap-siap ganjel truk supaya tidak mlotrok. Dari Semarang, aku melewati Kendal, kemudian Batang, dan baru masuk Pekalongan. Sepanjang Batang, durian banyak sekali dijajakan dipinggir jalan. Batang memang terkenal dengan buah dan emping. Aku ingat pasti karena dulu pernah meneliti potensi Batang beberapa bulan di sana. Buah-buahan di sini umumnya dikeringkan karena ketika dia menumpuk maka pasar tidak menyerap, akibatnya busuk. nah jalan keluarnya adalah teknologi, muncullah kripik rambutan, kripik nangka, pisang dan teman-temannya.

Sepanjang jalan batang pekalongan berpuluh-puluh toko batik berjejer... aku tidak minat mampir sih... karena emang nggak nyiapin budget untuk itu, toko juga udah nyaris tutup karena udah sore jam 5. (Btw, kalo dibanding dengan batik di bazarnya Citos... model di pekalongan kurang gaul... jadi ya batik yang ordinary aja sebenarnya).

setelah melewati pusat kota Pekalongan, aku belok kanan untuk melihat pantai Slamaran... cuaca mendung banget... jadi hanya sedikit foto yang bisa diambil. Pantai ini kecil, dan berbatu. beberapa remaja memadu cinta disepanjang tanggul pantai. Pantai ini tidak bisa untuk main, karena tidak ada pasirnya.




Habis dari Slamaran saatnya maem... karena ujan sangat deras.. maka eman2 kalo turun bawa kamera. jadi cita rasa maeman hanya bisa digambarkan secara naratif aja ya...
mengingat malas menginap (hujan.. jadi kupikir ngapain nginep), maka 3 makanan disantap sekaligus (toh sudah berbekal xenical). Pertama nasi kebuli dan nasi megono di RM Puas. Nasi kebuli ini rempah dan nenasnya terasa banget. pakai daging kambing... enak juga. Sedangkan nasi megono, adalah nasi putih dengan lauk gori (nangka muda) dicacah. modifikasinya ditaruh daging bumbu rujak, abon, dan acar. mmmm lumayan lah.
Habis dari RM puas... melaju ke depan PPIP, makan taoto. Taoto adalah soto tapi pake taoco. ada yang ayam ada yang daging... aku cocok dengan cita rasa ini. pedas dan agak kental..
hoooooo.. kenyang.. segera pulang semarang lagi, karena tiba-tiba tuing tuing... besok pagi-pagi pingin pulang jogja lewat ketep dan selo. Ketep adalah gardu pandang merapi di daerah Blabak magelang, dan selo adalah sela-sela 2 gunung merbabu merapi di daerah boyolali....\

Kamis, 11 Desember 2008

Sayap Kupuku


lihatlah aku sekejap cinta
aku menjadi lebih indah kini
pendar warna di sayapku bermunculan
ada biru, ada kuning, ada putih
semua berkilau ditimpa sang mentari

lihatlah aku sekejap cinta
aku mulai bisa mengepakkan sayapku
meski lembut
sehalus raup cintaku yang selalu terpancar

lihatlah aku sekejap cinta
masihkah kau temukan sisa sayatmu?
ketika kau membuka kepompongku dahulu???

aku hanya mencoba terbang bak kupu
halus, bersayap rapuh
namun indahnya memancar









Senin, 08 Desember 2008

Mencoba (tidak) narsis

Sabtu kemarin, seperti yang aku ceritakan dalam postingan sebelumnya,
hunting foto ke taman sari dan kraton
Kami berangkat bertiga. Tiar, Denies dan aku.

kebetulan kami ini mahasiswa dan eks mahasiwa S3 Ekonomi UGM yang sama-sama gila (mungkin aku yang paling parah) dan suka banget jalan. Kebetulan kami bertiga pengguna Cannon, dengan strata kamera dan keahlian yang berjenjang..

Yang pertama tuh Tiar. Tiar mahasiswa S3 jurusan manajemen. Cewek cantik putih, mojang priangan yang tetep asik badannya walaupun anaknya udah 6... (wuaaaahhhh rajin banget). Di tengah-tengah sakitnya, dia sakit Lupus, tapi bandel, maunya tetep panas-panasan... dia nggak pernah punya rasa lelah untuk travelling. Sukanya hunnymoon dengan suaminya. Tahun ini aja kalo liat portfolio foto dia, udah 8 kali jalan travelling.... aduuuhhhh senengnya (makanya Tiar... kamu belum prelim-prelim, habis dolan terus sihhhh. Kamera Tiar bikin kami iri. asli iri pol... gimana tidak kamera dia gelang merah nih... L series. Dia membeli L series ini sampai-sampainya dibela-belain barter. Barter apa coba? barter gelang dengan L series itu tadi.... wadooooohhhh

Yang kedua adalah Denies. Denies ini mahasiswa jurusan akuntansi yang barusan lolos dari prelim. Ibu dua anak ini paling Wokkkeeee dalam fotografi. sudut pengambilan, komposisi cahaya, perspektifnya oke banget. dia juga paling senior di antara kami. dengan kamera EOS 450D, tapi belum punya tele (hehehhe... karena uang barusan habis untuk beli Picco 10 inch, biar nggak berat kalo kuliah), dia menjadi ajang bertanya dan paling sering komplin. Lha pie, aku dan Tiar cenderung mengandalkan intuisi dibandingkan teknis. dan ini yang sering menuai protes denis.

Yang terakhir ya akulah... aku agak lebih beruntung dibanding mereka dalam kuliah. Aku udah lulus 1 tahun lalu....jadi aku bisa hunting lebih sering karena tidak lagi harus melek malem2 dan kurang tidur untuk baca jurnal.. heheh. Kalo tiar bisa barter gelang dengan kamera... aku tidak bisa... lha apa yang mau dibarter. gelang aja paling gelang batu2 etnik yang murah meriah itu yang aku punya. kamera dan macem2nya ini hasil ngajarku. Jadi kalo pas ngajar di S2 (yang tentu saja lebih lumayan dibanding di kampung halamanku), kutumpuk jadi kamera. pas dapet tugas riset ke jakarta.... ngirit jajan dan nggak tergoda ladies bazaarnya Citos, agar bisa beli tele... hehhehe segitunya ya..

kami mencoba untuk tidak narsis. karena fotografer kan harusnya mementingkan obyek. tapi ternyata susah ya... tetep aja napsu narsisnya tinggi.

Minggu, 07 Desember 2008

Taman Sari - the beauty nature

Sabtu pagi.. aku memang berencana hunting beberapa foto di Jogja.
Setelah terjadi perdebatan panjang dengan Tiar dan Denis
karena mau landscape, atau human interest??
akhirnya kami memutuskan untuk ke Taman sari, biar dapet human interestnya dan sekaligus landscapenya..



masuk taman sari, agak bingung..
karena bangunan ini cukup banyak dipotret orang.. sehingga cari sisi yang indah tentunya jadi tidak mudah..
berbekal EOS 1000D dan tele tamron (iriiii berat dengan tiar yang cannonnya bergelang merah.... hehehe terus kami punya pikiran depan kamera mau dikasih karet merah biar tidak kalah bergengsi.... payah-payah)

nah ini yang namanya bejo kemayangan...
di suatu sudut kami melihat 2 perempuan yang sibuk berfoto. ternyata Devi dan Cilik, mahasiswa UNY yang sedang dapat tugas fotografi...
akhirnya kami join...
dan sangat beruntung kami punya Cilik, yang cantik natural, meski pertama malu2 untuk action..
tapi akhirnya dia jadi sangat terbiasa dan natural..
dan inilah hasilnya.... yaaaaa.... hold.... nice...
tx buat cilik yang kooperatif


Sabtu, 06 Desember 2008

Sasanti - paduan jawa tropis

Pulang dari Salam, Jumat jam 4an, aku ajak Vena dan Vivin mampir ke Sasanti (tidak mampir sih sbenarnya... wong adoh) di selatan Hyatt utara Monjali
Itung-itung sebagai "hadiah" atas kerja keras mereka dalam tim promosinya FE unika

Sansanti, resto dan gallery. selatan Hyatt masuk ke barat, melalui jalan berbatu.
ketika masuk, gerimis kecil mengiringi. Bau rumput basah, bau tanah, membuat aku lega menghirup udara sore ini.
Rumah joglo dengan kebun tropis kecil ini, memberikan rasa damai dan sejuk di tengah pengapnya Jogja.

entrance yang berupa jembatan kayu, di kanan kirinya ada kolam dengan ikan mas Koi dan air mancur kecil.

Kami mengambil tempat duduk di pojok, dekat kolam.

Sambil menikmati tenangnya suasana kami memilih makanan dan minuman.
aku memilih Kawista yang dicampur dengan soda... rasa segarnya menyeruak di tenggorokan
Sambil ngobrol sana sini, kami menikmati ceriping telo, sebagai camilan.

mmmmm... makanan datang
Buntil Salmon... buntil daun talas yang lembut, membungkus Salmon yang lumayan besar..
santannya kental, dan udang segar, irisan cabe, dan petai sedikit, menambah kentalnya rasa jawa. Buntilnya lumer di mulut

Nasi campur sasanti. Nasi 3 warna, merah, putih dan kuning. Berpadu dengan ayam, kering tempe, udang balado, empal gepuk. rasanya pas sekali

Rawon buntut... Buntutnya empuk. rasa Kluwaknya pas karena tidak pait. Ubarampe berupa thokolan, telur asin dan kemangi, membuat rawon ini, cepat meresap di lidah

Ayam goreng... makanan biasa ini menjadi tidak biasa karena ayam kampungnya empuk, sambal trasinya pas. Nasi kita bisa pilih putih atau merah..

Nah sebagai desert kami ambil 2. Klappertart yang unik, karena dipadu dengan kanil, santan kental, dan Srikaya... yang melt banget. Srikayanya lebih mirip puding karamel, diberi bulatan kecil ubi kuning...

mmmmmm, makan siang dan kebersamaan yang indah

Salam: Kali Krasak dan Romo Mangun

Jumat siang, aku memacu cepat mobilku ke arah Salam, karena keliru kangsenan. Dijalan aku cuman bergumam: Gusti, tulung dong, aku harus janjian jam 1 nih. dan... Gusti ki memang hebat!!! hehehhe... jalan krodit tidak terasa, dan dari Minggiran rumahku aku hanya butuh waktu 35 menit untuk sampai Salam.. Thx ya Gusti...

Salam..sebuah rumah kecil di pinggir Kali Krasak
Kali Krasak, ini kali di perbatasan Jogja Jateng, yang menjadi lintasan lahar dingin kalo Merapi njebluk
Lha apa hubungannya dengan Romo Mangun...?
Romo Mangun yang membangun Code, yang dapat award arsitektur itu, adalah perancang Wisma Salam...

Ketika masuk ke Salam, setelah lebih dari 15 tahun tidak datang, ada energi yang sangat besar yang menggumpal. nggak tahu kenapa aku jadi deg2an, dan anget rasanya. Seperti kembali ke rumah. Ya... rumah yang membuat aku memandang banyak hal dari sisi yang berbeda, lebih plural dan bertanggungjawab...

Ketemu Rm. Endro..sebenarnya mau laporan tentang kegiatan outbond yang akan dilakukan Unika, untuk pelajar SMA se KAS. Kebeulan aku bawa si EOSku. dan baru cerita dikit,
si Rm, bilang:..."kamerane anyar.."
"hahaha tidak juga kok.., tapi saya nanti boleh mubeng ya... kangen atas suasana Salam, pingin motret" aku bilang gitu.
Si rm: " tak tunjukkin tempat bagus untuk ambil foto"
maka diajaklah aku turun ke Kali krasak.. menyusur sungai, nyemplung di air yang jernih berbatu..
dan ini beberapa dari mereka..






setelah naik ke atas si rm bilang lagi: "foto yang ini kurang fokus, yang ini kurang begini....Nih coba lensa saya...."
Gubrakkkkk..... bul dia pecinta foto...

Jumat, 05 Desember 2008

Sedulur Sikep - Local Wisdom

Setelah Rabu malam jam 23.00 mendarat di jogja, pagi harinya aku ngebut ke Semarang karena ada ujian skripsi. Siang hari, aku iseng mendatangi diskusi kecil di fakultas.
namun ternyata...... aku mendapatkan banyak banget dari diskusi kecil itu.
Diskusi ini membahas masalah pendirian PT Semeng Gresik di Sukolilo Pati. Masalah ini bukan masalah yang clear...
tapi yang lebih menarik adalah pemutaran Film di awal, dan seorang pembicara : Gunretno dari Sedulur Sikep.

Sedulur Sikep, begitu mereka lebih senang disebut dibandingkan orang menyebutnya sebagai Samin, adalah komunitas asli, yang berawal dari Randu Blatung Blora (Ingat..... kampung ini sering disebut oleh Thukul, yang mungkin dia tidak tahu sesungguhnya seperti apa).
Komunitas ini kemudian menyebar salah satunya di Sukolilo Pati.
Komunitas ini punya sesepuh yang dulu kala pada jaman penjajahan belanda telah melawan kebijakan-kebijakan Belanda. Namanya Ki Suro Santiko Samin.

Ketika melihat film yang muram, tembang yang nglangut.. aku membayangkan di tengah perjuangan mereka menghadapi jaman yang berubah, mereka juga Nglangut melihat kenyataan disingkirkan oleh bangsa kita sendiri, tepatnya oleh pemerintah.

Mereka, sebagian besar mengenakan udeng, dan berbaju hitam (meski ini bukan simbol dan keharusan), dan yang jelas bercelana tidak panjang, sangat terpinggirkan.
Mereka punya motor, tapi tidak bisa menggunakannya, karena tidak punya SIM
Mereka mampu bayar listrik, tapi tidak memiliki akses listrik.
Kenapa??
masalahnya adalah pada KTP.
Lalu kenapa KTP????
masalahnya adalah dalam KTP ada agama.

Beberapa dari mereka menyatakan, "Agama kami adalah AGAMA ADAM, dan ketika dalam pembuatan KTP kami diminta menuliskan Islam, atau pun agama lain, kami tidak bisa. karena itu bukan anteping ati kami. Ketika pak lurah memaksa menuliskan agama itu, kami sedih karena kami tidak beragama itu".
dan sebagian dari mereka memilih bertahan, lebih baik gelap, dari pada mengingkari apa yang diyakininya....

Susah memang dengan Indonesia, yang pemerintah menganggap paling tahu agama, sehingga hanya boleh ada 6 agama. Apa yang salah dengan agama lain? sebenarnya siapa yang berhak menentukan Tuhan. Sbenarnya siapa yang berhak menentukan hubungan vertikal kita dengan Sang Maha

(anakku sempat komentar.. pemerintah tuh aneh. Semua agama (yang kita akui) adalah agama pendatang. Bukan genuine cara sembah masyarakat asli.. lha kok malah boleh. Sedangkan agama yang nyata-nyata menjadi roh masyarakat sejak dulu, malah dilarang... ironis... ini kata anakku yang belum pernah punya KTP)

Nasib sedulur Sikep (yang berarti memiliki sikap, kejujuran mengakui apa yang dilakukan) menjadi semakin pelik, ketika PT Semen Gresik mau mendirikan pabrik di sana. Ada satu kearifan lokal yang dahsyat, yang mungkin kita tidak punya, yang dituturkan melalui bahasa jawa ngoko (mereka selalu berbicara dalam bahasa jawa).
Mereka berkata, "Sukolilo itu produktif karena kami mendapat berkat dari sumber mata air di pegunungan Kendeng, dan irigasi teknis dari Kedung ombo. kami tahu, irigasi ini telah mengorbankan para sedulur kami di Kedungombo. Jadi kami ini makmur, karena pengorbanan sedulur yang lain. Lha kalo sekarang kami serahkan gemahripahnya lahan kami untuk pabrik, apa ya itu tidak melukai mereka dan kami? kami hanya ingin membuat pegunungan Kendeng tetap memberi kehidupan lewat air yang jernih.....sayangnya karena kami bodo, setiap yang kami utarakan dianggap ditunggangi pihak lain..."
(ironis banget ya...............)

ada satu kearifan lokal, yang dilindas oleh jaman. dan sebagian dari kita tutup mata atas hal itu. kami di Unika.. baru akan mulai membantu mereka. aku sangat bersyukur, mulai dilibatkan dalam valuasi ekonominya. mudah2an ini dapat membuat mereka tidak termarjinalkan...

aku masih ingat..... tembang nglangut yang mengiring kata Ki Samin dalam bahasa jawa yang terjemahan bebasnya seperti ini.
Jangan meninggalkan tatacara. Berpeganglah teguh jangan ikut yang mengaku suci. Pilihlah dengan hati-hati untuk mengapai cita-cita
tembang nglangut itu membawaku berpikir dan berasa lebih banyak.... sudahkah aku berada bersama mereka???

Selasa, 02 Desember 2008

pegel kakiku...

aku tidak menikmati jakarta ternyata...
tidak senikmat gunung biru yang terlihat indah dari ketinggian

tidak pula seredup bayang matahari sore
yang diam-diam pergi ke horison malam

ketika masuk ke Hotel millenium..
bola-bola merah kuning membentuk pohon natal

seakan mengingatkanku bahwa natal hampir tiba...
tiba2 ingat berita CNBN, no christmas in US..
no shopping...
beberapa lingkaran natal yang terpasang di tangga
gemerlapnya, justru seakan menyentuhku
seberapa sederhana aku menghadapi natal ini
natal bukan gemerlap, tapi kesederhanaan...

tadi pagi maem..
bingung mau milih apa.. akhirnya milih sup miso dan nigiri...

beberapa buah kayaknya udah mensugesti bahwa itu maeman sehat

o'ooo... kadang kita emang harus bicara ke badan kita kok ya..
aku kadang-kadang bilang.. mmm yang sehat ya.. mau banyak kerjaan
mmmm... jangan sedih ya... emang dia sukanya bikin nangis kok..
mmmm... happy dong... karena itu ungkapan syukur..

terus setelah merasa kuat... mulailah jalan ke BI

wahhh untuk rimbunnya pohon membuat aku lupa
akan kaki yang pegel akibat high heels...
habis dari BI meluncur ke BKPM...
panasss banget...
apalagi mereka nggak asikk...
halah sebel juga..
dan akhirnya maem siang nyebrang jembatan penyebrangan
kakiku nut-nutan.. payah.. di Jogja dimana2 deket
tapi ya sudahlah demi Ekadonya Hoka bento.. hehee

dan hari ini kututup dengan wawancara
dengan chairmannya internasional business chamber...
ruang dia yang sejuk bikin ngantuk aku...

sekarang saatnya selonjor..
pegal kakiku malam ini
menyeruput secangkir coklat hangat
sambil mengenang hangatnya Jogja...
ternyata aku tidak menikmati Jakarta... (hanya karena kakiku pegal hehehe)