Minggu, 05 Juni 2011

Pitmontoran ~ menyusuri Menoreh

Mumpung liburan, dan mas sumetreks juga cuti, maka pitmontoran merupakan kegiatan yang paling asik dilakukan. Naik pit montor berdua selalu mengingatkan masa pacara dulu. Dengan supercup putih kami biasa mencari DALAM APIK, itu istilah kami. karena kami senang menyusur jalan desa, dengan pohon kelapa melengkung dipinggir kalen, dengan padi, dengan bau lumut.

dengan sumetreks...

Pagi itu jatahnya menyusur kulon progo. Perjalanan dimulai dari Minggiran ngidul sampai ke Palbapang dan belok kanan. menyusur jalan selatan, yang berdekatan dengan pantai. Motor dipacu tidak terlalu kencang

, sekali sekali berhenti melihat orang panen. Plang jalan pertama yang dijumpai adalah PANTAI TRISIK. maka membeloklah kami ke arah kiri, Jalanan yang mulus suasana desa yang sepi membuat pagi itu lebih indah. Pintu masuk ke pantai terlihat asik, karena serangkaian pohon cemara menyambung seperti membuat gerbang sendiri.
gerbang masuk ke Pantai trisik

Pantainya sendiri tidak terlalu bersih, banyak sampah kayu dan kelapa yang menyebar. Tidak ada orang lain kecuali kami berdua. Yang menarik adalah adanya Laguna di dekat pantai. Danau air payau dengan beberapa bebek mandi disana.

what a wonderful day

Ok... perjalanan dilanjutkan ke arah pantai GLAGAH... Pantai ini berbeda, karena sudah ditata. Ada kapal-kapal yang bisa mengantarkan kita menyusuri danau payau juga. Disepanjang pantai terlihat beton-beton pemecah ombak. Memang ombak disini luar biasa dahsyat. semburan riak air putih menjadi bakcground yang indah diantara langit biru.

Panas yang menyengat membuat kami tidak berlama-lama. Kami masih punya satu destinasi lagi, yaitu Waduk Sermo. Ada kejadian lucu. karena kami tidak tahu jalan, maka kami bertanya kepada tukang becak: "Pak mergi dateng waduk sermo medal pundi? [kami mengucap sermo dengan lafal seperti bebek]. Pak becak menjawab: wonten mriki mboten wonten waduk sermo mbak... Waaaahhhh kami bingung dan berpandang-pandangan. "lho pak... lha katanya ada"... dia ketawa... adanya waduk sermo mbak [dengan lafal tebu]... wealah...

jalan menuju waduk sermo ini, berliku menanjak dari arah wates ke utara... kiri kanan dipenuhi hutan tropis... dan... aduuuuhhhaaiiiiii... tak terlukiskan indahnya... sampai tidak pantas aku melukiskan dalam kata... lihatlah dan berkunjunglah saja..

menanti di dermaga
melempar

Setelah terbengong2 mencecap indahnya alam, kami melanjutkan mendaki punggung menoreh ke arah Nanggulan. Tidak sampai puncak SURALAYA.. namun, kesederhanaan alam yang ada sudah membuat kami puas banget. Siang ini kami menutup pitmontoran kami dengan SOTO KADIPIRO... heheheh ueeennakkk

di akhiri dengan soto kadipiro

Chiang Kai Shek sampai ke Lover Bridge

Menysuri Taipe, adalah menyusuri perpaduan antara sejarah dan modernitas. Inilah yang disebut sebagai peradaban. Meski Indonesia lebih kaya raya dan indah... namun kerap peradaban di Indonesia tidak menampakkan diri.

Chiang Kai Shek Memorial Hall

Perjalanan dari Danshui ke Chiang Kai Shek memorial Hall tidak membutuhkan waktu yang lama. Dengan MRT hanya kurang lebih 45 menitan. Dan dengan MRT yang super bersih, semuanya terasa nyaman.Tempat ini di kelilingi oleh taman, yang sederhana dan tertata rapi. Di plaza ini ada Liberty Square, National Theater and concert hall, juga istana kepresidenan

Gapura putih beratap biru, terlihat begitu megah menjulang... Chiang Kai Shek adalah presiden taiwan yang wafat pada tahun 1975. Presiden yang sangat dihormati. Dengan patung yang begitu besar di dalam istana kepresidenan

beruntungnya aku, karena pas sampai sana pas ada pergantian penjaga patung... Wah para tentara muda ini dengan sangat serius melakukan pergantian jaga. Dengan gerakan-gerakan atraktif, mereka memainkan senapan, dan menata diri untuk menjaga patung tersebut. Walaupun banyak orang yang foto didekatnya, dia sama sekali tidak tersenyum. Hahhaha hebat.

Di dalam gedung sendiri dilakukan pameran-pameran. selain barang2 sejarah, juga pameran yang lebih kontemporer...

Taiwan 101 Tower

Katanya ini adalah tower tertinggi kedua di dunia setelah Dubai. Dan mereka mengklain bahwa mereka memiliki lift tercepat di dunia. Lift ini mampu membawa pengunjung dari lantai dasar ke lantai pengamat di lantai 89 dalam waktu 39 detikSetelah dari Chiang Kai Shek, maka perjalanan dilanjutkan ke 101. Di depan ada tumpukan batu-bata berwarna warni yang bertuliskan nama para donatur. masih di depan tower ini ... [oya bagian bawah digunakan untuk Mall], terdapat tulisan LOVE yang cukup unik

Setelah membeli karcis kami masuk ke gedung berlantai 101 ini...Katanya gedung ini memiliki keunggulan yaitu fiber optik dan hubungan internet satelit yang dapat mencapai kecepatan 1 gigabyte per detik. Sebuah pendulum seberat 800 ton dipasang di lantai 88, menstabilkan menara ini terhadap goyangan yang timbul dari gempa bumi, angin topan maupun gaya geser dari angin. Pendulum ini dibikin menjadi ikon cantik, dengan berbagai warna yang menunjukkan karakter masing-masing. Dari atas... terlihat kota Taipei yang padat.

Lover bridge

Tontonan sore yang menarik adalah menyusur sungai Danshui menuju ke Lover Bridge. Danshui sendiri berarti air tawar. Dengan naik kapal, ini adalah spot terindah untuk memandang sunset. Sebelum masuk ke dermaga, kita bisa melihat begitu banyak jajanan, dan art performance yang begitu mengasyikkan. Para muda duduk berderet mengobrol, sebagian besar membawa anjing lucu mereka... menikmati sore di tepi sungai..

Kapalnya sendiri melaju dengan cepat.. Sampai di sana senja menjelang. Dan sangat cocok tempat ini disebut sebagai Lover Bridge, karena memang suasananya romantis habis.

menanti senja
aku dan sore

National Palace

National Palace merupakan museum seni di taipei dengan koleksi lebih dari 600 ribu benda antik, museum ini sungguh menawan. Ini katanya wikipedia: The National Palace Museum was originally established as the Palace Museum in Beijing's Forbidden City on 10 October 1925, shortly after the expulsion of Puyi,[5] the last emperor of China, from the Forbidden City by warlord Feng YĆ¼-hsiang. The articles in the museum consisted of the valuables of the former Imperial family.

pintu masuk National Palace

Yang jelas... disamping kita bisa melihat keindahan benda-benda sejarah, kita juga bisa beli cindera mata yang sangat beragam.. cihuii... karena menurutku tempat lain tidak menjual cindera mata sekomplit museum ini

Presentasi sambil dolan atau dolan sambil presentasi

Sesungguhnya tidaklah jelas perbedaan keduanya. Tapi kalau dipikir-pikir.. ini memang kombinasi yang perfect antara keduanya.

Begitu masuk ke Tamkang University, udara sejuk dan hijaunya alam sangat terasa. Pohon-pohon besar berjejer dengan indahnya, Bangunan yang dibangun semuanya menyesuaikan dengan pohon yang ada. Deretan kursi, sitting group mahasiswa di bawah pohon rindang sangat indah. Dan jangan salah... semua ini yang membersihkan adalah Mahasiswa... mereka memiliki SKS khusus untuk tugas ini...Tujuannya bukan hanya sekedar untuk menghemat biaya. Tapi ini adalah pembentukan karakter... Mereka akan saling menegur kalau ada yang membuang sampah sembarangan.. karena mereka sendirilah yang akan membersihkannya..

Coba kalau ini diterapkan di Indonesia.... hahahah pasti ngamuklah si orang tua mahasiswa... udah sekolah bayar mahal masih harus nyapu... hehehe

Aku juga beruntung karena mendapat fasilitas dari Tamkang.. Bukan hanya tiket yang dibayarin, namun juga dapet guest house di sana. guest house sederhana, namun sangat bersih. Kalau kita minta orang membersihkan maka kita harus bayar 800 NT perhari... heheh... mending nggak usah di clean up deh..

Satu kamar terdiri dari satu tempat tidur. Guest house ini juga menyediakan dispenser dan mesin cuci.. jadi sangat praktis.

Seminar di Tamkang menjadi relatif sederhana dibandingkan dengan gebyar seminar di Indonesia. Namun yang menarik adalah, para pembicaranya cukup banyak dan dari mana2. Bahkan yang menarik lagi... mungkin ini cara untuk menjadikan world class univeristy... mahasiswanya sangat didorong berpresentasi.. meski mungkin bahasa Inggrisnya tidak perfect... ehmmm kayak aku.. heheh.. Tapi yang penting mereka berani mencoba.

Kelompok dibagi di tiga kelas... Kelas yang sederhana namun lengkap...

emmmm..... menarik menarik... yang penting dapat pengalaman... setelah selesai presentasi.. yah tentu saja saatnya dolan....

Researcher backpacker ~ antara KL dan Danshui

Menjadi periset harus siap menjadi pengelana... Halah... ini alasan sederhana seseorang yang sangunya cumpen namun niat dolannya tinggi.

Kebetulan sekali salah satu paper diterima untuk dipresentasikan di Tamkang University... maka terbanglah aku dan mbak Murti menuju Taiwan, tentu saja dengan ongkos semurah mungkin. Maka rute yang ditempuh pun menjadi agak panjang. Pagi berangkat dari Jogja ke KL. dari KL lanjut mampir untuk nginep semalam ke Kinabalu. Dan baru pagi harinya kami berangkat ke Taiwan.

Perjalanan pagi itu terasa ringan sambil memandang sinar matahari yang masuk di sela-sela jendela. Mendarat di KL udah agak siang... dan perutpun sudah meronta minta makan.

Maka makanlah kami di TASTE OF ASIA... dengan menu nasi rendang, oseng buncis dan tofu... uhhmmmm enak juga

Ok... perjalanan dilanjutkan... kali ini terbang ke Kinabalu. Kalau dipikir mbolak mbalik sih.. karena Kinabalu kan di Borneo... ehhehe... tapi gimana lagi ini yang termurah. Sampai di Kinabalu sudah jam 19.00. Kami sudah dijemput oleh petugas Crown Borneo Hotel. Hotel Budget yang bersih, dan hanya 15 menit dari Bandara. Sengaja mencari hotel yang dekat karena besok pagi jam 6 pesawat ke Taiwan sudah harus terbang lagi...

Hotel ini terletak di daerah pecinan... maka tentunya dengan mudah kami menemukan makan. Ada warung cina sederhana, tanpa menu dan didepannya cuman terpampang sayuran. Dengan bahasa melayu yang kental mereka menawarkan apa yang akan kita makan. Akhirnya pilihannya adalah sup Horenso... bayam jepang itu lo dengan tofu masak daging..

Karena malam sudah larut.. segeralah kami tidur... arrrggghhh tidurnya nggak nyenyak... mungkin karena takut terlambat bangun besok jam 3 pagi.... tak apalah.. namanya juga pelesiran.

Dengan muka masih ngantuk, akhirnya jam 4.20 kami tiba di bandara kembali. Ada serombongan anak muda dari SARnya Kinabalu yang akan berangkat mbuh kemana. Pagi itu... matahari menyinari gunung-gunung Kinabalu yang mencuat dibalik awan... keindahan pagi itu, membuat aku berpikir... betapa cinta Tuhan akan diriku.

Sarapan pagi di pesawat kami pesan Chicken rice.... lumayanlah.... di dalam pesawat, lebih banyak digunakan untuk ngobrol ngalor ngidul, bicara tentang kerjaan, bicara tentang nilai hidup dan bicara tentang cinta.

Mendarat di Taipei Internasional Airport... terasa sekali keberaturan di sana... bersih... tertib... jangan coba2 naik eskalator berduaan... karena bisa ditabrak orang. Pakailah sisi sebelah kanan, karena jalur kiri adalah jalur orang yang akan berjalan cepat di atas eskalator.... Hehehhehe membayangkan Indonesia... wahhhh betapa kita tidak memiliki banyak etiket.

Kami memiliki teman yang paling hebat... Mbak Watik.... dia menjemput kami langsung di bandara... sangat untung kami dijemput... kalau tidak mungkin benar2 ekstra keras berpikir.. maklum sangat sedikit yang bisa bicara inggris... dan semua tulisan berhuruf kanji... terimakasih banyak ya mbak Watik...

Perjalanan ke Danshui berjalan lancar.. dengan 800 NT kami naik taksi [gelap].. hehehe.... perjalanan menyusur pinggi pantai siang itu terasa nyaman.

.....naik "jet coaster" di Curug Sawer [hari kedua Situgunung]

Aneh to??? ke air terjun Curug Sawer kok naik "Jet Coaster"... tapi kalo tidak aneh, nanti bukan Ika??? hahahaha.... asliii ki... ini bener2 naik "Jet Coaster" untuk mencapai air terjun yang sangat alami dan indah.

Hari kedua kami di Situgunung, ditekadin untuk bangun pagi karena pingin menangkap kabut di danau. Tapi apa daya wine effect menjerat kami. Sehingga baru bangun jam 7 pagi. Setelah mandi dengan air hangat tentunya... aku dan mas Ratri bergegas naik mobil masuk ke hutan lindung lagi. Aga dan Eki nggak mau bangun.. ngantuk katanya.

Pagi ini masih sangat sepi... bekas hujan semalam membuat pakis dan damar menjadi lebih hijau. Suasana senyap. Setelah memarkir mobil, kami berjalan santai berdua. Kali ini tidak tergesa-gesa. Beberapa sinar matahari yang menerobos pucuk-pucuk daun memberikan sensasi tersendiri. Hutan menjadi bergradasi, dari hijau pupus, hijau lembut, hijau kemerahan dan hijau pekat. Aku membayangkan sebuah kehidupan.. ya.. kehidupanku begitu bergradasi warnanya. Dan itu menimbulkan spektrum warna yang indah.

Begitu sampai danau Situgunung... Nahhhhh ini dia.... danau yang selama ini aku lihat di web, yang katanya menjadi dambaan begitu banyak fotografer.. dan ternyata memang indah. Pantulan warnanya, ada merah kuning hijau, semua membayang dengan jernih.

Asap putih di tepi lain danau juga memberi hal yang berbeda. Beberapa orang menaiki rakit dengan teduh, dan beberapa pemancing, melempar pancingnya tak bersuara. Seolah takut mengganggu ikan yang sedang bercumbu di keheningan pagi.

Setelah puas... kami berjalan kembali ke mobil. Di tengah jalan ditawarin 2 tukang ojek. "Pak, Bu.. ke air terjun?", sapa mereka. "Berapa?" tanya mas Ratri. "empat puluh ribu perorang" kata mereka. Waduuuuhhh mahal banget. Mereka memberi alasan, jalannya berat. Akhirnya setelah tawar menawar deal di harga 25 ribu perorang.

Ternyata kalau memakai motor, maka kami harus keluar dari hutan lindung dulu, turun menuju obyek wisata yang dikenal sebagai Cinumpang. Dan ternyata sodara-sodara... setelah bayar di pos pertama... pengalaman sensasional dimulai.. Jalan yang dilalui.. sangat sempit. benar-benar jalan setapak. Tepi sebelah kanan adalah tebing, tepi sebelah kiri jurang. Jalan tanah yang diselingi batu, menanjak, baik, turun, berkelok.... huaaaaahhhh.... aku pegangan jok sepeda motor kenceng banget. takut jatuh dan takut mlorot ke sopir ojek itu.... Setiap membentur batu... jeglokkkkk... shock breker langsung bersuara keras.... waduhhh ngeri super ngeri..

Akhirnya sampailah kami di tanah yang agak datar, yang ternyata kami harus turun karena tidak mungkin diteruskan dengan ojek. Dengan kaki ndredeg,... aku bilang sama mas Ratri,.... "kita pulang jalan saja.... aku kepuyuh puyuh... takut banget..." ternyata.. kata pak ojek kalau pulang harus jalan 3 km, dengan bentuk tanjakan dan turunan yang lebih mengerikan bila memilih jalur hutan lindung... akhirnya ya apa boleh buat... heheh

Jalan sempit penuh pakis, sungai mengalir kecil, dan jembatan bambu... ini petualangan yang sempurnan.

Dan....ketika masuk ke curug sawer.... semua ketakutakan sirna... air terjun yang sungguh indah... sungguh alami..

Sempatkanlah ke sana kawan.

Pagi itu kami sarapan ketupat sayur di villa cemara, dan pulang melalui Puncak. Dan rasanya tidak afdol bila tidak mampir Puncak Pass untuk sepiring poffertjes..