Jumat, 05 Desember 2008

Sedulur Sikep - Local Wisdom

Setelah Rabu malam jam 23.00 mendarat di jogja, pagi harinya aku ngebut ke Semarang karena ada ujian skripsi. Siang hari, aku iseng mendatangi diskusi kecil di fakultas.
namun ternyata...... aku mendapatkan banyak banget dari diskusi kecil itu.
Diskusi ini membahas masalah pendirian PT Semeng Gresik di Sukolilo Pati. Masalah ini bukan masalah yang clear...
tapi yang lebih menarik adalah pemutaran Film di awal, dan seorang pembicara : Gunretno dari Sedulur Sikep.

Sedulur Sikep, begitu mereka lebih senang disebut dibandingkan orang menyebutnya sebagai Samin, adalah komunitas asli, yang berawal dari Randu Blatung Blora (Ingat..... kampung ini sering disebut oleh Thukul, yang mungkin dia tidak tahu sesungguhnya seperti apa).
Komunitas ini kemudian menyebar salah satunya di Sukolilo Pati.
Komunitas ini punya sesepuh yang dulu kala pada jaman penjajahan belanda telah melawan kebijakan-kebijakan Belanda. Namanya Ki Suro Santiko Samin.

Ketika melihat film yang muram, tembang yang nglangut.. aku membayangkan di tengah perjuangan mereka menghadapi jaman yang berubah, mereka juga Nglangut melihat kenyataan disingkirkan oleh bangsa kita sendiri, tepatnya oleh pemerintah.

Mereka, sebagian besar mengenakan udeng, dan berbaju hitam (meski ini bukan simbol dan keharusan), dan yang jelas bercelana tidak panjang, sangat terpinggirkan.
Mereka punya motor, tapi tidak bisa menggunakannya, karena tidak punya SIM
Mereka mampu bayar listrik, tapi tidak memiliki akses listrik.
Kenapa??
masalahnya adalah pada KTP.
Lalu kenapa KTP????
masalahnya adalah dalam KTP ada agama.

Beberapa dari mereka menyatakan, "Agama kami adalah AGAMA ADAM, dan ketika dalam pembuatan KTP kami diminta menuliskan Islam, atau pun agama lain, kami tidak bisa. karena itu bukan anteping ati kami. Ketika pak lurah memaksa menuliskan agama itu, kami sedih karena kami tidak beragama itu".
dan sebagian dari mereka memilih bertahan, lebih baik gelap, dari pada mengingkari apa yang diyakininya....

Susah memang dengan Indonesia, yang pemerintah menganggap paling tahu agama, sehingga hanya boleh ada 6 agama. Apa yang salah dengan agama lain? sebenarnya siapa yang berhak menentukan Tuhan. Sbenarnya siapa yang berhak menentukan hubungan vertikal kita dengan Sang Maha

(anakku sempat komentar.. pemerintah tuh aneh. Semua agama (yang kita akui) adalah agama pendatang. Bukan genuine cara sembah masyarakat asli.. lha kok malah boleh. Sedangkan agama yang nyata-nyata menjadi roh masyarakat sejak dulu, malah dilarang... ironis... ini kata anakku yang belum pernah punya KTP)

Nasib sedulur Sikep (yang berarti memiliki sikap, kejujuran mengakui apa yang dilakukan) menjadi semakin pelik, ketika PT Semen Gresik mau mendirikan pabrik di sana. Ada satu kearifan lokal yang dahsyat, yang mungkin kita tidak punya, yang dituturkan melalui bahasa jawa ngoko (mereka selalu berbicara dalam bahasa jawa).
Mereka berkata, "Sukolilo itu produktif karena kami mendapat berkat dari sumber mata air di pegunungan Kendeng, dan irigasi teknis dari Kedung ombo. kami tahu, irigasi ini telah mengorbankan para sedulur kami di Kedungombo. Jadi kami ini makmur, karena pengorbanan sedulur yang lain. Lha kalo sekarang kami serahkan gemahripahnya lahan kami untuk pabrik, apa ya itu tidak melukai mereka dan kami? kami hanya ingin membuat pegunungan Kendeng tetap memberi kehidupan lewat air yang jernih.....sayangnya karena kami bodo, setiap yang kami utarakan dianggap ditunggangi pihak lain..."
(ironis banget ya...............)

ada satu kearifan lokal, yang dilindas oleh jaman. dan sebagian dari kita tutup mata atas hal itu. kami di Unika.. baru akan mulai membantu mereka. aku sangat bersyukur, mulai dilibatkan dalam valuasi ekonominya. mudah2an ini dapat membuat mereka tidak termarjinalkan...

aku masih ingat..... tembang nglangut yang mengiring kata Ki Samin dalam bahasa jawa yang terjemahan bebasnya seperti ini.
Jangan meninggalkan tatacara. Berpeganglah teguh jangan ikut yang mengaku suci. Pilihlah dengan hati-hati untuk mengapai cita-cita
tembang nglangut itu membawaku berpikir dan berasa lebih banyak.... sudahkah aku berada bersama mereka???

1 komentar:

ceniel mengatakan...

hahaha..
baca postingan ini jadi ingat sikap saya yang selalu protes..

kenapa di ktp selalu ada kolom agama.
kalau kita tidak ingin menganut satu agamapun yang ada di daftar resmi pemerintah gimana??
ndak fair..
gimana pula dengan orang yang tidak ingin punya agama..
apa ndak boleh kosongin kolom agama..
gitu kan??/
jd... saya selalu salut pada orang orang yang punya sikap seperti kelompok orang samin ..
berani bilang tidak..

memang pemerintah tidak fair....terhadap orang yang tidak beragama..
padahal.. orang tidak beragama kan belum tentu tidak ber Tuhan kan??
....
saya termasuk penakut untuk mengosongi kolom agama di KTP saya..
hahaha.... tp suatu kali ada kesempatan boleh mengosongi kolom agama di KTP, pasti saya lakukan..
hahaha...