Minggu, 04 Oktober 2009

Kana, dan keliling danau Tiberias

Hari terakhir sebelum ke Yordania, transit ke Dubai dan Jakarta

Hari ini ditutup dengan ke Gunung Tabor, Misa di Kana dan menyusuri danau Galilea. Jalan ke Tabor yang berliku (aku kayaknya kleru crita deh, yang berliku tuh Tabor, dan bukan Karmel.... sorry...udah tua). membuat kami harus naik mobil khusus dan bukan bis. Wah tapi memang pemandangan di sana begitu indah. Pertapaan Franseskanes yang sepi sangat indah.
Setelah menikmati keheningan pagi, maka langsung ke Kana. Di Kana Yesus, pertama kali membuat mukjijat. Mengubah air menjadi anggur dalam pesta perkawinan. Anggur Kana terkenal manis, kurang pahit sedikit sih menurutku hehee.
Yang istimewa dalam Misa di Kana ini, adalah adanya pembaharuan janji perkawinan. Dulunya pinginnya pake gaun. udah bawa sih gaun pink pendek.. tapi lupa bawa sepatu. punyanya cuman sepatu kets.... hahahaa..... kan kakiku kaki gajah. jadi wagu pol. akhirnya pake kaos yang lumayan sopan, warna merah.
Setelah selesai misa, kami mampir sebentar ke toko suvenir, dan lanjut ke Yardenit, anak sungai Jordan. Sungai yang biru kehijauan tampak tenang. Di sini Yesus di baptis oleh Yohanes Pembaptis. Beberapa ikan tampak berenang tenang di sana. Sayangnya tidak ada upacara pembaptisan yang terjadi. padahal pasti mengasikkan melihat pembaptisan di sana.
Nah sekarang tiba saatnya untuk berlayar. Bus melaju ke danau Galilea atau Tiberias. Danau yang tenang. Kami masuk ke rumah makan, yang subsisten, karena menghasilkan apa2 sendiri. Suguhannya adalah ikan Petrus. atau ikan Tilapia. Disebut ikan petrus karena Yesus menjaring Petrus pertama kali di sini. Ya hanya ikan petrus tok, dengan kentang dikit.
Habis itu kami berlayar menyusuri danau. bendera merah putih dikibarkan di kapal, lagu dari kaset kapal, Indonesia Raya berkumandang. Indonesia adalah negara ke 5 yang paling banyak datang ke Tanah Suci.
Lengkap sudah kunjungan kali ini (ada beberapa cerita yang memang belum tertulis. sori, agak susah mengingatnya hehehe...).... kunjungan yang menyenangkan, dan menawan hatiku.

Jaffa, Haifa dan Gereja Maria Diangkat ke Surga

Tak terasa sudah hampir memasuki hari terakhir. Hari ini harus meninggalkan Yerusalem menuju Danau Tiberias atau Galilea, atau Kinereth. Pagi-pagi, setelah sarapan, menu fav ku selama di hotel adalah Jamur dan Taoge mentah... segar, dikasih olive oil dikit. Bus pun berjalan konstan, melewati padang kapas, yang menjadi produk andalan Israel.

Kunjungan pertama adalah ke Jaffa. Jaffa adalah pelabuhan tua yang terletak di bagian selatan tel Aviv. (oya ibukota Israel tuh bukan tel Aviv lo, tapi Jerusalem, meski Tel Aviv adalah kota terbesar). Kota ini sangat bagus dengan pemandangan laut yang sangat indah... menakjubkan.
Kemudian kami mampir ke Kaesarea (nama dari herodes Agung. Kota ini membentang sepanjang pantai mediterania. Ada amphitheater yang sangat besar di sini. Juga ada Hippodrome tempat kuda berpacu, pilar-pilar yang ada bikin pingin nari india...halah...
Kemudian dilanjutkan ke aquaduct, saluran air yang membentang dari gunung Karmel sampai ke Kaesarea. Dahsyat banget ya jaman dulu sudah begitu.
Sekarang saatnya ke Gunung Karmel. Gunung dimana Nabi Elia berhasil mengalah nabi-nabi Baal yang mempersembahkan persembahan bagi Tuhan. Perjalan ke sini harus ganti mobil dulu. karena jalanan sungguh berkelak-kelok. ada sekitar 32 tikungan... asikkkk...
Suasana pertapaan Karmel yang tenang, segera memberikan kesan dingin di hati, suasana damai, dan bukan permusuhan. Biara Karmel ini juga dipersembahkan kepada Perawan maria, sebagai lambang Bunda Allah yang penuh belas kasih. Jalan terus ke Haifa.
Haifa sendiri adalah kota kecil yang tidak memiliki tradisi suci dalam ajaran kristen. tapi di tempat ini ada taman yang sangat indah. Taman untuk agama Bahai, yang berasal dari Iran. Agama ini mengakui semua Nabi, Musa, Isa, Muhammad, dan Sang Budda, dengan nabi terakhir adalah Baha Ullah (berasal dari Persia), pendiri agama Bahai tersebut. Mereka masih mengakui adanya nabi baru yang akan datang. Haifa dipercaya sebagai kota suci mereka. Taman yang sangat indah.
Acara hari ini ditutup dengan Misa di gereja Maria Diangkat ke surga. Gereja ini ada dua bagian, Gereja keluarga Kudus dan Gereja maria diangkat ke Surga. Kembali, hati merasa begitu damai. Rahib-rahib Franseskanes, membuat gereja ini menjadi sangat nyaman untuk berdoa.
Gereja ini dipenuhi dengan gambar maria dari berbagai bangsa. Indonesia, Marianya sangat jawa, memakai kain kebaya, kelihatannya karya F Widayanto, keramikus terbesar Indonesia.

Mengapung di Dead Sea

Setelah selesai Via Dolorosa, maka saatnya kembali ke Hotel, sarapan, dan lagi-lagi segera jalan... Kali ini agak ringan, karena akan diakhiri dengan berenanggggggg....

Kunjungan pertama adalah di gereja Kelahiran Santa Maria, tempat Santa Anna dan Yoakim, mengandung dan membesarkan Maria. Gereja ini dibangun jama Kruseder, dan tetap indah sampai saat ini.
kemudian dilanjutkan ke Kolam Bethesda Kolam ini tidak jauh dari gerbang St. Stefanus, di tembok timur kota lama. Kolam berbentuk segi 4 terkubur dalam puing-puing, dan dulu digunakan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Para Kruseder membangun sebuah kapel di atas rerntuhan gereja Byzantium yang sisa pintu utamanya masih bisa terlihat di atas kolam.
Siang semakin terik, perjalanan dengan bis kembali dilakukan. Sekarang akan ke Qumran. Tempat gulungan kitab suci pertama ditemukan.
Di Qumran ini dulu hiduplah kaum Essenes, yaitu kelompok orang beragama yang menjauh diri dari kehidupan dunia. Mereka meninggalkna Yerusalem dan hidup lebih keras di pada pasir untuk doa, belajar, meditasi, semangat kemiskinan dan kemurnian. Mereka membuat sumur-sumur penampungan air, dan memiliki ritual mandi dalam sebuah kolam sebelum menulis.
pada tahun 1947, ditemukan gulungan gulungan kitab oleh para Bedouin yang menggembalakan doma disana. Ada 7 gulungan kitab suci yang terbuat dari kulit domba, kertas papirus kuno dan tembaga. Melihat daerah yang panas terik, terbayang kehidupan mereka yang demikian berat.
Ok... now... time for leisure... Kemana lagi kalo bukan berenang di laut Mati. karena kandungan mineral yang terlalu tinggi, dan garam yang sedikit dijamin mengapung. hahahaha.... asik... kulitku menjadi semakin mulus akibat lumpur Dead Sea.... what a asik day...

Via Dolorosa

Via Dolorosa, atau Jalan Sengsara Yesus, merupakan kisah sengsara Yesus mulai dari rumah Pilatus sampai ke Kalvari.

Pagi ini jam 6 pagi, saya sudah mulai mempersiapkan diri. Hati saya berdebar tidak karuan, entah karena apa? mungkin hati kecilku merasa tidak layak menyentuhNya... o debaran yang tidak bisa dihentikan, antara kerinduan dan airmata, antara rasa syukur, dan upaya menjadi lebih baik.
Pagi itu setelah parkir, jalan mulai mendaki. Kanan kiri jalan penuh dengan toko dan warung, sama seperti setting jalan salib yang terbaca di Kitab Suci. Daerah ini adalah daerah saudara-saudara Muslim, tapi tidak membuat perbedaan apa pun dalam hati kami. Rutenya tidak jalan salib dulu, karena kami mendapat kesempatan Misa pertama. Jadi langsung menuju Gereja Golgota. Gereja yang amat sangat besar. Di dalamnya terdapat berbagai macam gereja lagi, mulai dari Katolik Roma, Katolik Ortodox Yunani, dan Armenia. Ada 2 Gereja Katolik Roma utama di sana. Di sisi Makam Kudus, dan sisi Golgota. Kami mendapat jatah Gereja Golgota.
Tempatnya harus naik tangga, karena Golgota adalah suatu bukit. Di atas, ada dua altar, milik ortodox Yunani dan Roma. Gereja Ortodox Yunani berdiri di atas tanah yang dipercaya sebagai tempat Yesus disalibkan. Sedangkan Katolik Roma mendapat bagian, tempat Yesus dilucuti pakaiannya dengan paksa dan dipaku di kayu salib.
Kami nderek Misa di Gereja yang indah. Rasa yang tidak karuan kembali muncul, karena menyentuh tempat Yesus di salib. Aku memimpin lagu dengan suara yang bergetar menahan tangis (dalam mengetik inipun mataku berkaca-kaca). padahal selama sekian hari dan selalu memimpin lagu tidak ada masalah apa pun. Misa berjalan hening, dan cepat, karena masih ada beberapa rombongan lain yang akan misa kloter berikutnya.
Tampak di sisi kiri altar, sahabat2 ortodox, bersujud di altar satunya, mencium batu, tempat salib Yesus ditancapkan. Semua memakai kerudung putih dan hitam, sebagian pula memakai burka yang hitam pekat. Mereka menelungkup dan terisak.
Selesai misa, kami turun ke bawah. Di bawah ada batu pualam besar, tempat Yesus diurapi, sebelum dikafani dan dimakamkan. Karena tempat ini adalah Gereja Ortodox, sehingga ritual penyembahan terasa lebih kental dibandingkan Katolik Roma. Para rahib berpakaian hitam dan berjenggot panjang, para perempuan yang menutup kepala dengan kerudung, datang menciumi batu pualam, mengguyurnya dengan wewangian.
Aku merubuhkan badanku di pualam tersebut. menyentuhkan pipiku, dan membiar hidung dimasuki aroma wewangian. Kuletakkan rosarioku, kuusapkan... aku menangis, rindu akan Dia...
Setelah selesai kami akan memulai jalan salib. Sempat potret sebentar di depan. Perjalanan dimulai dari gereja dimana Yesus dicambuki dan dimahkotai duri. Kubah yang berornamen mahkota duri, diterobos sinar matahari memberi nuansa indah.
Sebenarnya kami mau memikul salib dengan menyewa. Tapi si pemilik salib, dari toko2 yang berjejer itu bener2 mengkomersialkan, karena dia harus memotret ritual kami. padahal pemotretan pasti akan mengganggu jalan salib ini. Akhirnya tanpa salib kami melalui perhentian demi perhentian, di tengah keributan pasar, dan lalu lalang pengemis, kami mendaraskan doa.
Sampai kembali di Gereja makam Kudus, kubur batu milik Yusuf dari Arimatea. Kubur batu ini dibagi menjadi dua sisi. Sisi yang sangat besar adalah milik Gereja Katolik Roma. Dibuat dari kubah batu hitam, dengan lilin yang melingkar dan bernyala berkedip. Karena antrean sangat panjang, maka kami memutuskan mengambil sisi satunya milik Gereja Armenia. toh tidak ada bedanya, Ruangan yang kecil memungkinkan kami masuk satu-satu dan menyentuh makam Yesus....
Suatu peristiwa iman, yang membuat aku jatuh cinta lebih dalam

Kapel Kenaikan, Taman getsemani, Peter galicantu, beiapSampai Tembok Ratapan ~ Yerusalemkngan

Keluar dari Bethlehem, kami sempat makan masakan Indonesia karena kokinya dari Mangga dua. Wow... opor telur dan rendang... ueeennaaakee reek...

Kemudian dilanjutkan masuk Yerusalem lagi, menuju ke Kapel Kenaikan. Kapel Kenaikan Yesus yang kecil dan berbentuk kubah, tampak sepi juga. Didalamnya ada batu yang dikelilingi pagar rendah, dan ada lilin menyala. Batu itu adalah pijakan Yesus ketika naik ke Surga. Ada satu sudut di kapel ini yang ditutup dengan tembok, karena Kapel ini pernah digunakan sebagai masjid. Dan kebetulan tembok itu adalah kiblat, sehingga lubang ditutup. Gereja Pater Noster, adalah tujuan berikutnya. Gereja Pater Noster adalah tempat dimana Yesus pertama kali mengajarkan doa Bapa kami. Disana tertera berbagai bahasa di seluruh dunia. Indonesia diwakili oleh bahasa Indonesia, jawa, batak dan sunda. o ya.... bunga mawar di sini... buesar2, warnanya bright dan sangat harum.
Meskipun siang ini terik sekali, tapi semangat nggak boleh luntur dong... Langkah mengayun ke Lembah Kidron. Lembah yang sangat indah, karena kita bisa memandang, Jerusalem lama dan baru sekaligus. perpaduan berbagai gereja, masjid dan sinagoga, sangat menawan mata.
Jerusalem kota yang dahsyat tempat 3 agama besar terlahirkan. Berjalan menyusuri lorong, akhirnya sampai ke Sanctuary of Dominus Flevit. Tempat Yesus menangisi Yerusalem. Dalam kemenangannya Yesus memasuki Yerusalem dengan menaiki keledai. Ketika sampai di kota itu menangislah Dia, katanya: "Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lulu mengepung engkau, dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau berserta dengan pendudukmu ..."
membayangkannya membuat aku miris.
Di dekat Lembah Kidron, masuklah kami ke taman Getsemani. Taman yang indah, dengan pohon yang akarnya berasal dari jaman Yesus. Yesus berdoa disana sebelum maut menjemputnya.
Persis di sebelah taman Getzemani, berdiri Gereja Segala bangsa. Gereja ini adalah sumbangan dari 16 bangsa. Kubah-kubahnya didekorasi dengan mosaik yang menawan. Menurut saya Gereja ini merupakan gereja yang paling indah ornamennya di Yerusalem. Di altar depan ada 4 patung Penginjil yang masing-masing memegang satu buku persembahan. Didalamnya pula ada batu tempat Yesus berdoa.
Dari seberang jalan pemandangan ornamennya pun tak kalah indah.
Perjalanan dilanjutkan ke St. Peter galicantu Church. tempat Petrus menyangkal Yesus 3 kali. Di puncak pelataran gereja, lembah Kidron dan kota lama Yerusalem terlihat begitu memukau. Matahari sore yang bersinar lembut, memberikan temaram yang indah.
Bukit Sion adalah tempat berikutnya. Sayang kami tidak bisa masuk ke Gereja maria karena sudah terlalu sore. Akhir Bapak Uskup Sintang mengambil gitar, berkumpullah kami, dan menyanyi dengan suka cita.
Dari atas bukit Sion, terlihat jelas Dome of the rock yang berkubah emas, dan Masjid Al Aqsa yang berkubah hitam.
Kaki penat bekas pendakian gunung Sinai tidak terasa. Dengan berjalan pelan, aku menuju ke Tembok ratapan. Beberapa teman menitip doa di tembok ratapan. Tembok ratapan atau tembok barat, merupakan tempat paling suci bagi bangsa Yahudi. tempat ini merupakan peninggalan dari Bait Allah kedua. Peringatan atas penghancuran Yerusalem, dan mengenang rerutuhan Bait Allah, membuat orang Yahudi, berdoa, menangis dan meratap di tembok ini. (meski begtu pada 48-67, Yahudi tidak dapat berdoa, karena tembok ini dikuasai teritori Yordania). Aura yang sangat besar terasa di tembok ini.
Aku serasa menyaksikan kepedihan, keindahan, dan penghancuran yang berjalan sekaligus. Bukankah seharusnya kasih melebihi segalanya???

Jerusalem-Bethlehem, sebuah jejak yang menyentuh

Setelah turun gunung Sinai, makan, yang tidak enak, maka segera packing dan bergegas naik bis. Perjalanan kali ini kembali panjang. Hari ini aku mau masuk Israel melalui Tabha, jalur selatan Israel. Pas berangkat kami udah dipesenin, supaya seolah-olah nggak bisa bahasa Inggris. Kalo itu mah nggak perlu seolah-olah. hehehe.

Sampai di perbatasan Mesir Israel, kami harus gotong koper dan menuju imigrasi. Lolos imigrasi mesir, tarik koper lagi masuk ke Tabha Israel. Masuk Israel, aduh.. yang jaga anak2 SMA, mereka wajib militer. Dengan kacamata item, celana hipster yang medel-medel, dengan bahasa inggris yang bagus, dan kepercayaan diri yang sangat kuat mereka menyambut tamu. Karena kami rombongan maka dia minta menunggu. Dengan kekernya.. dia melihat apakah kami lengkap atau tidak. Dengan sangat sopan dia bilang bahwa prosedurnya begitu. Kegalakan muncul ketika ada tamu dengan mobil mewah yang kayaknya ada problem dengan paspornya. di usia semuda itu mereka tetep tenang. Ok... akhirnya masuk imigrasi. "Angelina", ... "yup", "what's your full name?", "Angelina Ika Rahutami". "Do u speak english", "No, of course"... terus aku diijinkan jalan. bareng kupikir-pikir... pethuk juga diskusi tadi ya... hehehe..
Oke akhirnya masuk Israel. Laut biru mediteranian emang cihui. Di beberapa sudut perempuan berbikini dan keluarganya, berenang suka cita. Bersih tertata. pemandangan yang sangat berbeda dengan Mesir. Gurun yang gersang, di beberapa titik berubah jadi taman bunga yang indah.
Dengan local tour guide, Hiske, ibu yang cukup sepuh yang menguasai 4 bahasa, dan pengetahuan yang sangat lengkap. perjalanan ini jadi sangat menyenangkan. Perjalan dimulai dengan melewati laut mati yang sangat luas. Mineral putih yang ditumpuk dan siap diolah jadi macem-macem menjadi pemandangan yang indah. Kemudian kami melewati Tiang garam. Konon ini adalah istri Lot, yang nengok ke belakang dan menjadi tiang garam.
Kami menginap di Hotel Jerusalem Gate. pemandangan orang-orang Jahudi dengan topi kecil di kepalanya (kipfa) menjadi pemandangan yang jamak. Topi mereka pun bermacam-macam, ada yang tinggi, ada yang topi koboi. Hal ini karena ada masyarakat Armenia, dan Amish di sana. Indah menyaksikan keberagaman ini. Jerusalem Gate Hotel cukup besar. Dan ada Sabath lift, lift yang selalu ada di tiap hotel. Sabath lift ini akan otomatis membuka di tiap lantai pada hari Sabath. Hari dimana umat Yahudi tidak boleh melakukan aktivitas apa pun, termasuk memencet lift.
Besok paginya perjalanan ziarah pun di mulai. Gereja pertama yang dikunjungi adalah Gereja tempat St. Hieronimus menterjemahkan Kitab Suci dari bahasa Ibrani menjadi bahasa latin pertama kali. Gereja ini terletak di Bethlehem. Bethlehem sendiri berarti Rumah roti atau dalam bahasa arab adalah Rumah daging. Betlehem meskipun berada di Israel, namun di bawah kekuasaan Palestina. Sehingga kami harus melalui pemeriksaan lagi. Bethlehem ini di kepung oleh tembok yang membatasi Israel dan Palestina. Tembok bagian dalam palestina penuh dengan tulisan yang menginginkan agar tembok dihancurkan.
Gereja ini ada di bawah tanah. Suasana Sakral segera terasa. Misa pagi itu terasa nikmat. Dengan Altar ortodox yang romonya membelakangi umat.
Selesai misa, kami segera berjalan kembali, masih di Bethlehem menuju Groto Milk. Gua ini di percaya, bahwa Maria dan bayi Yesus ada disana. Maria menyusui Yesus, dan air susu yang tumpah di tanah, menjadikan seluruh daerah menjadi putih. Gua ini memang putih bersih. Dalam gua ini banyak terjadi mukjijat terutama untuk keluarga yang menginginkan anak. Dalam gua ini ada 1 gambar dan 1 patung, yang menunjukkan Maria sedang menyusui Yesus. Hanya disinilah ada gambar Maria menyusui, karena selama ini gambar Maria selalu dalam figur yang sendiri, atau menggendong Yesus.
Setelah berdoa, maka kembali jalan kaki. Suasana lengang dan harum falafa, makanan khas mereka merangsang aroma. tapi jalan harus terus, kami akan masuk ke Gua Kelahiran Yesus. Gereja Kelahiran Yesus, harus masuk melaui pintu yang sempit dan badan membungkuk. Ini karena waktu perang Salib, pintu sengaja diturunkan (bahkan dulu harus mbrangkang) untuk bentuk penghormatan. Gereja ini sangat indah. Banyak ornamen cantik, lampu2 indah tergantung di dalamnya. Suasana sangat hening. Beberapa rahib melintas, menekankan keheningan yang harus di jaga.
Kami harus antri sebelum menuju ke Altar tengah, tempat bintang perak sebagai tanda peringatan akan kelahiran Yesus berada. Gereja ini dibangun pada tahun 326 M dan merupakan 3 Gereja pertama di tanah suci. Dua pintu masuk ke palungan dihiasi oleh lampu aneka macam.
Bintang perak dengan tulisan latin "Hic de Maria Virgine Jesus Christus Natus Est" membuat mataku berair. Aku sujud, menyentuhnya, dan dalam hati berkata, aku menyentuhmu Yesus yang lembut hati. Lembutkanlah hatiku selalu. Perjalanan dilanjutkan ke Padang Gembala, tempat para gembala menerima kabar sukacita. Bau pinus yang menyeruak, taman yang tenang, gereja yang hening membawaku ke lamunan masa silam.

Sabtu, 03 Oktober 2009

Ten Commandements - Mt. Sinai - Unta

Esuk uthuk uthuk... serasa belum tidur karena kemarin baru masuk kamar jam 10, jam 1 udah harus di loby. Dari hotel dengan baju hangat seadanya, sepatu kets, syal, dan kopiah... aku memasuki bis dengan bibir bergetar. Suasana gelap menambah rasa dingin.

Sampai di stop bus, aku segera turun. Belum banyak orang yang siap di situ. Kami diminta berjalan sekitar 20 menit. Setelah 20 menit, maka kami akan diantar oleh para Beduin, yang siap dengan untanya. Dalam bayanganku sih, kayak orang naik kuda itu, kuda mendekta. OOOOOO ternyata tidak. Kami harus menghapal nomer. aku dapet nomer 3. Number 3... maka datang seorang beduin muda yang tidak kelihatan wajahnya. segera dia menggandeng tanganku, dan berjalan dengan cepat. tanpa senter aku terasa terserat-seret.. ternyata.. aku berjalan diantara unta unta yang tiduran... oooo... Musa... tukang untaku, bilang, pls your bag... be carefull lady... Tas segera kutaruh di pelana unta. dan naiklah aku. pelana tanpa sanggurdi, sehingga kakiku menggantung. Dan... sang Unta bangun. kaki belakang diangkat dulu baru kaki depan. walah... untung nggak jatuh. Bara..bara... Larikh larikh... itu ucapan si beduin musa..untuk mempercepat jalan unta
Berjalan pelan agak zig zag, sayang aku nggak bisa motret karena unta anti cahaya, kadang kakiku diseruduk unta lain. cukup menyakitkan. Setelah sekitar 1,5 jam naik unta, akhirnya sampailah di pos ke 6. ini pos terakhir. aku turun, dan sekarang digandeng orang lain, menuju ke "cafe " kecil. Untung beduinku 2 ini pinter inggris. "I want to take a pee"... o... there is the biggest toilet mam..., hahaha dan bersembunyilah aku di belakang batu.
masuk ke cafe tadi... minum coklat hangat 1$. cafe dikelilingi selimut, untuk menahan angin. Setelah semua rombongan berkumpul, kami melanjutkan perjalanan. Yang sepuh2 diingatin untuk tidak ikut mendaki 750 tangga, yang tidak bisa dianggap selangkah-langkah. Oksigen yang tipis, dingin 10 derajat, dan angin besar, membuat nafasku kembang kempis. Eki lebih parah lagi. Karena asma maka dia ngos-ngosan banget. pelan-pelan hampir satu jam akhirnya kami mencapai puncak. Masih menunggu 45 menit matahari terbit, kembali berdesak2an di warung. Banyak orang costa rica di sana..suana ramai.
Segera aku mendaki lagi. Kali ini tidak lama hanya 15 menit. Dan OMG..... cantik sekali. Kapel kecil, yang dulu Musa dengan hanya berkasut, menerima 10 perintah Allah. Matahari yang muncul perlahan... semburat jingga bercampur biru.. indah.. magis... cantik.. tidak ada yang bisa kuucap.
Dalam dekap kabut dingin aku bersyukur, atas segala yang terjadi dalam kehidupan. Menuju ke pintu kapel, bergandengan tangan, bernyanyi memuji namaNya... persaudaraan yang hangat. Di sudut-sudut lain, semua orang berdoa, dalam berbagai bahasa... memuji namaNya.
Saatnya pulang sekarang... matahari sudah lebih terang. Dan... o'o... lihat jalan yang kami lalui tadi. Pantas saja sang unta jalannya malam. Selain karena kalo siang panas. rasanya nggak ada yang mau naik deh kalo menyaksikan keterjalannya. hehehe...
Segera setelah berjam-jam turun. ini lebih lama karena tidak naik unta, jalan berpasir persis di bromo di tempuh sekitar 2 jam lebih.
Di ujung gunung, kami menemukan Gereja/Biara Santa Katarina. Biara ini dibangun oleh kaisar Yustinian pada abad ke-6.
gereja ini dimaksudkan untuk melindungi tempat suci, tempat Malaikat Tuhan menampakkan diri pada Musa dalam nyala api yang keluar dari semak berduri. Santa Katarina sendiri adalah putri bangsawan Alexandria yang sangat cantik, dan dijatuhi hukuman mati dengan cara digilas roda kayu besar berduri. tapi dia tetap hidup, dan akhirnya di penggal dengan pedang. Biara ini cantik sekali bagai tumbuh di tengah oasis.
Dengan bis, kembali ke Morganland, yang terlihat lebih indah karena tampak kolam renang dengan latar belakang gunung sinai. Pingin renang... tapi nggak bisa.. karena harus cepat2 makan, dan siap-siap ke Israel