Sabtu, 03 Oktober 2009

Ten Commandements - Mt. Sinai - Unta

Esuk uthuk uthuk... serasa belum tidur karena kemarin baru masuk kamar jam 10, jam 1 udah harus di loby. Dari hotel dengan baju hangat seadanya, sepatu kets, syal, dan kopiah... aku memasuki bis dengan bibir bergetar. Suasana gelap menambah rasa dingin.
Sampai di stop bus, aku segera turun. Belum banyak orang yang siap di situ. Kami diminta berjalan sekitar 20 menit. Setelah 20 menit, maka kami akan diantar oleh para Beduin, yang siap dengan untanya. Dalam bayanganku sih, kayak orang naik kuda itu, kuda mendekta. OOOOOO ternyata tidak. Kami harus menghapal nomer. aku dapet nomer 3. Number 3... maka datang seorang beduin muda yang tidak kelihatan wajahnya. segera dia menggandeng tanganku, dan berjalan dengan cepat. tanpa senter aku terasa terserat-seret.. ternyata.. aku berjalan diantara unta unta yang tiduran... oooo... Musa... tukang untaku, bilang, pls your bag... be carefull lady... Tas segera kutaruh di pelana unta. dan naiklah aku. pelana tanpa sanggurdi, sehingga kakiku menggantung. Dan... sang Unta bangun. kaki belakang diangkat dulu baru kaki depan. walah... untung nggak jatuh. Bara..bara... Larikh larikh... itu ucapan si beduin musa..untuk mempercepat jalan unta
Berjalan pelan agak zig zag, sayang aku nggak bisa motret karena unta anti cahaya, kadang kakiku diseruduk unta lain. cukup menyakitkan. Setelah sekitar 1,5 jam naik unta, akhirnya sampailah di pos ke 6. ini pos terakhir. aku turun, dan sekarang digandeng orang lain, menuju ke "cafe " kecil. Untung beduinku 2 ini pinter inggris. "I want to take a pee"... o... there is the biggest toilet mam..., hahaha dan bersembunyilah aku di belakang batu.
masuk ke cafe tadi... minum coklat hangat 1$. cafe dikelilingi selimut, untuk menahan angin. Setelah semua rombongan berkumpul, kami melanjutkan perjalanan. Yang sepuh2 diingatin untuk tidak ikut mendaki 750 tangga, yang tidak bisa dianggap selangkah-langkah. Oksigen yang tipis, dingin 10 derajat, dan angin besar, membuat nafasku kembang kempis. Eki lebih parah lagi. Karena asma maka dia ngos-ngosan banget. pelan-pelan hampir satu jam akhirnya kami mencapai puncak. Masih menunggu 45 menit matahari terbit, kembali berdesak2an di warung. Banyak orang costa rica di sana..suana ramai.
Segera aku mendaki lagi. Kali ini tidak lama hanya 15 menit. Dan OMG..... cantik sekali. Kapel kecil, yang dulu Musa dengan hanya berkasut, menerima 10 perintah Allah. Matahari yang muncul perlahan... semburat jingga bercampur biru.. indah.. magis... cantik.. tidak ada yang bisa kuucap.
Dalam dekap kabut dingin aku bersyukur, atas segala yang terjadi dalam kehidupan. Menuju ke pintu kapel, bergandengan tangan, bernyanyi memuji namaNya... persaudaraan yang hangat. Di sudut-sudut lain, semua orang berdoa, dalam berbagai bahasa... memuji namaNya.
Saatnya pulang sekarang... matahari sudah lebih terang. Dan... o'o... lihat jalan yang kami lalui tadi. Pantas saja sang unta jalannya malam. Selain karena kalo siang panas. rasanya nggak ada yang mau naik deh kalo menyaksikan keterjalannya. hehehe...
Segera setelah berjam-jam turun. ini lebih lama karena tidak naik unta, jalan berpasir persis di bromo di tempuh sekitar 2 jam lebih.
Di ujung gunung, kami menemukan Gereja/Biara Santa Katarina. Biara ini dibangun oleh kaisar Yustinian pada abad ke-6.
gereja ini dimaksudkan untuk melindungi tempat suci, tempat Malaikat Tuhan menampakkan diri pada Musa dalam nyala api yang keluar dari semak berduri. Santa Katarina sendiri adalah putri bangsawan Alexandria yang sangat cantik, dan dijatuhi hukuman mati dengan cara digilas roda kayu besar berduri. tapi dia tetap hidup, dan akhirnya di penggal dengan pedang. Biara ini cantik sekali bagai tumbuh di tengah oasis.
Dengan bis, kembali ke Morganland, yang terlihat lebih indah karena tampak kolam renang dengan latar belakang gunung sinai. Pingin renang... tapi nggak bisa.. karena harus cepat2 makan, dan siap-siap ke Israel

1 komentar:

Griya De Nature Indonesia mengatakan...

Thank you for sharing information on your website, blogging greetings
Ambejoss De Nature Di Apotik