Sabtu, 01 November 2008

Interaksi dan nilai

benarkah suatu nilai terbentuk dari sebuah interaksi??
ada cerita yang sangat mengganggu tadi malam dan membuat aku berpikir.
************
salah satu kerabatku, memiliki uang, memiliki ketrampilan namun tidak mau memanfaatkan, karena dia sebenarnya lulusan sekolah musik dan mahir piano. Sebut saja si mbak L. Si mbak L ini memiliki Ibu, yang suka meminjamkan uang ke orang lain, kalo tidak bisa disebut rentenir. Nah ternyata bakat ini menurun ke mbak L. maka ketika ia memiliki uang 5 juta (tidak besar untuk suatu pinjaman), dia meminjamkan pada salah satu temannya dengan bunga 10% perbulan. Ternyata si teman tadi setelah jatuh tempo tidak dapat membayar. Nah... setiap hari ditengoklah si teman ini oleh mbak L. terus hingga 2 minggu. Setelah 2 minggu mbak L tidak tahan, maka dia meminta suaminya untuk menemani menagih keras. Si suami tidak mau. Maka diajaknyalah anaknya, laki-laki yang baru kelas 6 SD, untuk ikut menagih. Akhir kata, televisi dan tape si teman ini dia sita. Dan si anak kecil membantu menggotong-gotong barang sitaan. Si teman Blooding karena saking setresnya dan masuk rumah sakit. Cerita ini miris banget. Namun yang lebih membuatku miris adalah si anak kecil ini menelpon budenya. "bude, kalo punya uang kayak aku aja. Celenganku dipinjam ibuku, lalu dipinjamkan ke orang lain. Nah sekarang aku tiap bulan dapat uang 160 ribu"
menyesakkan.........
**************
ini cerita yang lain. tapi masih tentang interaksi dan nilai. salah satu my boss sangat2 menekan dalam hal yang tidak hanya positif tapi juga negatif. menekan dalam hal positif artinya, menuntut aku banyak membaca, banyak mencari ilmu, agar tidak dilahap habis dalam sebuah diskusi. Menekan dalam hal negatif artinya value yang dia anut dalam kehidupan sangat, sangat, dan sangat berbeda dengan ku. Pernah suatu kali dia bercerita bagaimana kalau suatu saat anaknya menikah, warisan yang kelak dia berikana akan sangat tergantung pada siapa menantunya. Suatu sore yang lain dia cerita, bahwa semua pekerjaan adalah "akal-akalan". jadi kalo tidak mau diakalin, tekanlah lebih dulu, cheatinglah lebih dulu, agar kita selamat. Atau suatu pagi buta dia berkomentar, andai partner hidup kita sakit keras, dan rewel sehingga mengganggu kita, anggaplah hubby kita itu orang gila, yang tidak harus didengar, supaya kita tetap dapat bergerak. Nilai-nilai yang diumbarkan dari mulutnya pada awalnya hanya masuk keluar telingaku. Namun ketika pada suatu saat, dia berlaku amat manis pada salah satu teman baru hanya karena dia anak dosen, seketika saat itu ada rasa jealouse yang amat sangat pada diriku dan temanku yang lain. Dan mendadak kami amat kaget. Ini bukan kami!!! tidak pernah satu kali pun dalam hidup kami merasa iri dan tidak nyaman. Segera aku berpikir, jangan-jangan nilai yang sering dia katakan meresap dalam hatiku..
aku harus pergi, karena tidak ingin... nilai hidupku berubah hanya karena sebuah interaksi.
*************

Interaksi menwujudkan nilai. Kalau kita berinteraksi lama, maka akhirnya nilai-nilai dari seseorang akan lebih mudah tertransfer dalam kehidupan kita.
Ketika aku sebagai perempuan dewasa ternyata tidak mampu membendung meresapnya nilai yang lain akibat suatu interaksi, apalagi seorang anak?
Kadang kita lupa, sebetulnya value apa sih yang mau kita bentuk pada seorang anak?
kadang kita lupa, bahwa seorang anak, melihat, dan mencerna apa yang orang tua lakukan sebagai suatu kebenaran. terutama ketika dia belum dapat menganalisis apakah itu kebenaran, atau bukan...
nampaknya aku dan kita (mungkin) harus lebih banyak bercermin. Agar nilai yang ditularkan adalah sesuatu yang baik...

2 komentar:

Ayik dan Ernut mengatakan...

Jadi betul, anak adalah kertas putih. salam kenal, piye kabare Semarang, aku wong Solo sing glidig di Jkt, mbak!

goenoeng mengatakan...

belum tentu, mbak.
interaksi dalam jangka waktu lama tidak menjamin nilai2 atau kebiasaan seseorang atau kelompok meracuni, kalo boleh dibilang begitu, diri kita.
dulu....kumpulan saya adalah bajingan, hehehe...yg notabene do doyan 'sing elek2' :D
tapi buktinya nggak ngaruh ik, mbak. mungkin karena saya orang yang suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan ya.....
*mungkin ya tergantung wonge, ah*