Selasa, 19 Agustus 2008

mengenai negeri, mengenai anomali

Menikmati liburan tidak selalu menghasilkan suatu cecapan kegembiraanDan liburan long wikenku kemarin justru menimbulkan haus tanyaMengenai negeri ini,
Mengenai anomali yang terjadi

Memasuki Bandung, aku lebih banyak mencium aroma artifisial

Ketika bertemu dengan begitu banyak cahaya
Ketika melihat kota yang semrawut dengan berbagai kendaraan, dan motor yang seakan tidak memiliki etika dan hanya berhelm ciduk
Ketika menjumpa para lalu lalang menenteng tas penuh
Bukan salah mereka, mereka tetap penggerak ekonomi kita
Tapi ada tanya yang lebih dalam, inikah yang sejati?

Ketika paginya melintas ke Ciwidey, yang akhirnya gagal aku kunjungi akibat kecegat pawai

Tapi justru menyiratkan sesuatu yang lama hilang
Pawai sederhana, tidak seperti Jember Fest, tidak juga Solo Batik Carnival
Tidak ada sponsor, hanya ada meriam bumbung yang ditenteng-tenteng
Tapi lihat gairah mereka, antusiasme dalam mengisi merdeka
Tapi lihat barang yang mereka gunakan, ya itulah yang mereka punya
Lihat mimik mereka.... serasa inilah sejati yang ada...

Dan ketika esok harinya lagi mencapai Pangandaran

Yang berjubuel manusia, yang masih saja membuang sampah tanpa peduli
Padahal di sisi lain, pelaut menggotong perahu, dan nelayan tertidur kelelahan..
Aku hanya berpikir... pada bagian mana aku?
Apakah aku telah memiliki peran sedikit bukan Indonesia?

Aku justru teringat anakku, si pemula film indieYang pada hari kebangkitan nasional lalu diminta untuk bicara di depan sejumlah mahasiswa (padahal dia baru SMA kelas 1).
Dia diminta memutarkan filmnya yang berjudul ”tak berbalas” sebuah film tentang suratnya ke SBY yang tak juga dibalas, padahal berisi kegelisahan dia tentang Indonesia,
Dalam forum itu dia diminta untuk bicara bagaimana mengisi kemerdekaan.
Dan dengan simpel dia berkata (aku tidak tahu kenapa, tapi ketika dia berada di forum itu, dia memiliki insting bahwa sebenarnya yang mengundang adalah anak2 PRD) :
”Menurutku mengisi kemerdekaan itu harus dari hati, ya cukup lakukan apa yang aku bisa. Kalo aku lagi senang bikin film Indie.. ya aku akan mencoba memberi nilai pada film saya dengan semangat cinta tanah air. Jadi menurutku tidak ada gunanya kalau kalian hanya berteriak-teriak tentang tidak becusnya pemerintah, padahal kalian sendiri tidak memiliki solusi. Lebih baik berkaryalah... karena dari hal kecil kita bisa membuat Indonesia menjadi besar”..

Ya tampaknya itulah yang lebih sejati...
(btw... aku jadi lebih hati2 nih njagain dia... karena nampaknya para prd itu cukup terpesona dengan pikiran anakku... waduuuhhhh.... !!!!)


8 komentar:

cenil mengatakan...

hehehe.. iya deh..
tp apa yang dikatakan benar juga..
lakukan aja yang kita bisa lakukan.. komplain kepada orang lain??? bisa bisa diklethak kita..
wong.. memang indonesia lagi masuk jaman kalabendu..
sing bener ngalah..
jaman anomali,jaman anarkis, jaman hedonis, jaman....sinetron!!!!!
ndak nyambung ya?
hidup anak anak idealis!!!!!

amethys mengatakan...

prd itu apa???? hihihi partai politik?

hihihihi......bravo ananda...maju terus ...berkrya terus sukses ditangan yah

amethys mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
gakpede mengatakan...

statemen anak kita ini (?) nampeg rai saya, sehingga saya cengar-cengir baca posting mbak ika
teruskan mulungnya, mbak
biar makin banyak dapet mutiara

gakpede mengatakan...

wah, wieda,
kita barengan masuk ke sini ya ...

vina mengatakan...

wow...kalimat anakx tuh bener, mbak. berkaryalah

lam kenal

astrid savitri mengatakan...

Nah, kalau gak keburu prejudis justru yg dianggap 'kecil' dan 'gak ada apa-apanya' itu biasanya malah memberi nilai lebih..cuma memang tergantung yg melihat sih!

Artha mengatakan...

pusiing