Selasa, 16 Maret 2010

Pontianak - merasakan recik air kapuas

Kamis Pagi.....
RUA APTIK sudah berakhir pagi tadi. Masih ada waktu sesiang untuk kembali merasakan Pontianak.
Inbox : Ka, rencanamu pagi ini kemana
Outbox : Aku sih mau jalan sembarnag mas. Emang kamu punya waktu masihan
Inbox: masih ada 2 jam sebelum ke bandara
Outbox: yo wis tak tunggu di bawah ya...
Sampai di lobby Mercure, sudah ada Mas Ludi (WR 3 UAJY), Pak Koes (Rektor UAJY) dan romo Gito (USD) dan bu Cicih (Ka LPPM Unika). maka menyewalah kami mobil inova, per jamnya 50 ribu. Tujuan pertama ke DEKRANAS, karena mereka pingin beli oleh2 untuk istri tercinta... wahhhh ternyata belum buka. Maka aku bilang: ke istana aja yuk... siapa tahu ada cindera mata juga.
Maka setelah menyebrang Sungai Kapuas dengan jembatan beloklah kami kiri ke kompleks istana. Ada makam yang sangat tidak terurus di depan. Masuk lagi... makin kumuh. Air menggenang di sekeliling rumah panggung. Aku membayangkan penyakit yang berseliweran di sana. Wahhhh... masuk ke pasar yang super duper ruwet nih... dan tampaknya ini alun-alun istana. aduhhh... ruwet pol. pedagang tidak beraturan. Tugu disampiri jualan karpet.

Gerbang istana terbuka. Tampak istana kecil yang mulai ditumbuhi lumut dan kerak. Ya inilah Istana Kadriah... Di depan istana yang sepi ada meriam kuning yang kecil. Kami melangkahkan kaki ke panggung... Eitttsss.... lepas tuh sepatu....!!! teriakan keras menghantam telinga. Aha... rupanya nggak boleh pake sepatu. Istana belum buka. Penjaga kemudian ribut mengeluarkan meja-meja. ternyata mereka mau jualan suvenir. halah.

Masuk istana, ada seorang ibu tua, yang ternyata salah satu istri raja ke 7. Ibu itu menggunakan daster panjang dan jilbab. Dengan kerentaannya beliau menjelaskan istana dan hikayatnya. Tidak banyak cerita yang di dapat. Di dalam istana hanya lorong panjang, yang dilapisi karpet berbedu dan apek. Di ujungnya ada tempat duduk raja. Saat ini raja yang berkuasa adalah raja ke-9. Sepanjang lorong ada foto-foto tua.. yang tidak terawat.

Di kanan kiri lorong adalah kamar-kamar yang salah satunyta dihuni oleh Ibu tersebut. Di kamar yang paling depan ada tempat tidur Raja pas sunat dulu. That's it... nggak lain yang bisa dilihat. Wah benar-benar tidak terpuaskan aku. Maka sekeluar dari istana. Aku rasan-rasan dengan pak sopir yang kebetulan orang asli Ponti.

Ika: Bang, mungkin nggak sih menyusur Kapuas
Supir: Bisa aja bu... tapi panas, naik sampan
Ika: katanya ngeri ya Bang kalau masuk Ke kampung Beting
Supir: iyalah... itu kan sarang narkoba dan copet
Ika: terus dari mana naiknya..
Supir: dari depan Korem Bu
Ika: Bang kalau gitu kita drop teman-teman di hotel, karena mereka akan pulang, terus aku ditemeni naik sampan ya.... [kemarin berpartner dengan penjaga tiket, sekarang dengan sopir taksi gelap]
Pak Koesmargono gedeg gedeg... cah edan... kowe arep dolan dewe Ka??? yaaaalahhhh siapa takut.

Akhirnya setelah ngedrop mereka, aku meneruskan perjalananku sendiri. Sungai coklat menyambutku. Untung langit biru. Jadi tetap saja mengasyikkan. Sewa perahu per jam 100 ribu. Aku menyusur sungai dalam terik panas. Asemmm lupa bawa topi, kacamata dan tidak pake sunblock. bisa dibanyangkan bentuk kulitku kan. Sepanjang sungai, kampung kampung kumuh, rumah renta di atas kayu. Orang mandi sepanjang sungai.

Ada beberapa kapal yang membawa kasur dan bibit kelapa sawit bergerak pelan ke pedalaman. beberapa perahu mengangkut anak sekolah. Di sisi satunya adalah Kampung Beting. Kampung yang sarat dengan kejahatan. Konon di sana kayak ada pintu seribu. Bila sudah turun, dan dicopet, maka nggak mungkin kita bisa menemukan orang itu karena dia bisa keluar masuk rumah orang tanpa terlacak, saking tembus pintunya...

Perjalanan yang mengasikkan... menggelitik sisi kemanusiaan, akan arti pembangunan.
Oke saatnya istirahat... karena nanti malam akan berbis ria ke Kuching

Tidak ada komentar: